Saatnya Pemimpin Muda Bikin Sejahtera

MALANG POSCO MEDIA – Kematangan manusia di usia 40 tahun. Maka seorang pemimpin dinilai sangat matang kalau usianya sudah mencapai atau mendekati 40 tahun. Usia yang tak lagi muda, tapi semangat dan perjuangannnya masih sangat menyala seperti anak muda. Trengginas, cekatan dan akselerasinya cepat.
Maka bila sebuah organisasi bisa melahirkan pemimpin-pemimpin di usia 40 an tahun, maka organisasi tersebut bisa dikatakan sukses dalam kaderisasi dan mencetak pemimpin muda. Tren lahirnya pemuda memang sudah menggema lima tahun belakangan. Dan tahun 2025 ini ditandai banyak lahir pemimpin-pemimpin partai yang usianya 40 an tahun.
Yang terbaru, PDIP di Malang Raya, punya pemimpin-pemimpin baru yang masih sangat muda. Ketua PDIP Kota Malang Amithya Ratnanggani Sirraduhita SS, Ketua PDIP Kabupaten Malang Didik Gatot Subroto, dan PDIP Kota Batu Saifudin Zuhri. Semua pemimpin baru ini punya komitmen yang sama Pro Rakyat.
Sebelumnya Partai Golkar Kota Malang juga sukses melahirkan pemimpin muda. Meski masih kontroversial hasil Musyda Golkar di Surabaya, namun ketua baru sudah diputuskan. Kini tinggal menunggu bagaimana keputusan Partai Golkar Pusat menyikapi hasil Musyda yang memicu disegelnya kantor Golkar di Jalan Panglima Sudirman.
Kita perlu mengapresiasi lahirnya pemimpin-pemimpin muda yang berkiprah di dunia politik. Kita berharap dengan semangat mudanya, tak hanya muda secara fisiknya saja. Tapi juga muda pemikirannya. Muda segala terobosan-terobosannya. Yang ditunggu masyarakat adalah program-program yang benar-benar muda dan segar alias baru.
Ketika menduduki posisi penting di politik, maka kesempatan para pemimpin muda itu membuat perubahan. Perubahan tidak hanya di partai yang dipimpinnya saja. Tapi perubahan di pemerintahan dan kehidupan sosial masyarakat. Sudah lama masyarakat hanya menjadi ‘jalan’ untuk memuluskan para politisi mencapai kekuasan. Kini saatnya masyarakat yang harus menjadi ‘jalan’ bagi para pemimpin-pemimpin muda mewujudkan komitmennya Pro Rakyat. Tak perlu program yang muluk-muluk. Masyarakat tak minta yang aneh-aneh dan neko-neko. Masyarakat hanya minta hidup sejahtera, pekerjaan mudah dan kebutuhan pokok murah. Bukan sebaliknya. Hidup sengsara, pekerjaan susah dan kebutuhan pokok harganya semakin menggila.(*)



