Hari Kartini Di SD Islam Sabilillah Malang 1, Berani Bermimpi, Gigih Membangun Peradaban

MALANG POSCO MEDIA – Suasana SD Islam Sabilillah Malang 1 mendadak riuh dengan warna-warni busana adat. Ratusan siswa tampak gagah dan anggun. Namun, perayaan hari itu bukan sekadar peragaan busana. Mereka sedang menghidupkan kembali nyala api perjuangan Raden Ajeng Kartini melalui tema “Kartini Cilik Berani Bermimpi dan Berkarya”. Kegiatan ini menjadi komitmen sekolah dalam membentuk calon pemimpin peradaban dunia yang Islami dan cendekia.
Ketua Panitia Kegiatan, Iftitah Rahman, S.Pd menegaskan bahwa keberanian harus dipupuk sejak dini. Menurutnya, siswa tidak boleh takut memiliki cita-cita setinggi langit. “Tema ini mendorong siswa memiliki keberanian bermimpi besar. Ini modal utama menjadi pemimpin masa depan,” ujar Titah, sapaan akrabnya. Dia juga ingin semangat Kartini tidak hanya menjadi sejarah dalam buku, tetapi menyatu dalam karakter siswa.

Rangkaian acara dimulai dengan apel pagi yang khidmat. Setelah itu, panggung sekolah menjadi saksi keberanian siswa. Ada lomba fashion show untuk kelas bawah yang melatih rasa percaya diri. Ada pula lomba paduan suara lagu daerah yang mengasah kolaborasi.
Sementara itu, siswa kelas atas unjuk gigi dalam lomba bertutur tentang sejarah Kartini. Semua kegiatan ini dirancang untuk mengintegrasikan keterampilan abad ke-21 seperti komunikasi dan berpikir kritis.

Satu hal yang mencuri perhatian tahun ini adalah kehadiran Market Day Jajanan Tempo Dulu. Inilah pembeda utama dari perayaan tahun sebelumnya. Siswa belajar berwirausaha secara langsung. Mereka menyiapkan, mengenalkan, hingga menjual produk tradisional kepada kawan-kawannya.
“Kartini adalah sosok yang berpikir maju dan mandiri. Market day melatih jiwa kemandirian dan kreativitas siswa dalam mencoba hal baru,” jelas Titah. Lewat pasar tradisional mini ini, siswa juga belajar mencintai warisan budaya lokal di tengah arus modernisasi yang kencang.
Antusiasme siswa terlihat sangat tinggi sejak gerbang sekolah dibuka. Wajah-wajah ceria nampak dari mereka yang tidak ragu tampil di depan publik. Titah menitipkan pesan mendalam, khususnya bagi siswa perempuan. Dia menekankan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan dan karakter.

“Jadilah perempuan yang berani bermimpi dan berilmu, namun tetap menjaga akhlak mulia,” tuturnya. Pesan emansipasi ini diharapkan membuat siswa perempuan percaya diri namun tetap rendah hati.
Secara keseluruhan, kegiatan ini menjadi laboratorium karakter bagi seluruh siswa. Baik laki-laki maupun perempuan belajar untuk saling menghargai peran satu sama lain. Mereka belajar bahwa kesetaraan adalah tentang kerja sama untuk memberi manfaat bagi lingkungan.
Titah berharap semangat ini tidak berhenti saat acara usai. Dia ingin seluruh rangkaian kegiatan ini benar-benar membekas dalam sikap sehari-hari. “Kami berharap nilai keteladanan Kartini tumbuh menjadi kebiasaan positif, baik di sekolah maupun di rumah,” pungkasnya. (imm/sir/udi)




