Angka Stunting Naik 2 Persen, Momentum Perkuat Gotong Royong Lintas Sektor
MALANG POSCO MEDIA, KOTA BATU – Pemerintah Kota Batu tidak gentar menghadapi kenaikan angka stunting sebesar 2 persen dibanding tahun sebelumnya. Alih-alih menutup-nutupi kondisi di lapangan, Pemkot Batu justru memandang tren kenaikan ini sebagai hasil dari sistem pendataan yang jauh lebih masif, akurat, dan terbuka.
Penegasan tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting Kota Batu yang dihelat di Graha Pancasila, Balai Kota Among Tani, Senin (28/9). Forum strategis ini dipimpin langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Batu Alfi Nurhidayat, serta dihadiri oleh jajaran stakeholder lintas sektor mulai dari perangkat daerah, camat, hingga kepala desa dan lurah se-Kota Batu.
Dalam pemaparannya, Alfi menjelaskan bahwa kenaikan angka sekitar 2 persen tersebut tidak serta-merta merepresentasikan memburuknya situasi riil di tengah masyarakat. Lonjakan ini justru dipengaruhi oleh kualitas survei yang kian tajam melalui Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) serta instrumen pendataan lokal yang menjangkau sasaran lebih luas.
”Dengan masifnya kita turun ke lapangan, tingkat akurasinya lebih tinggi. Dan kita sendiri yang justru memunculkan status stunting yang bertambah,” ujar Alfi di hadapan para peserta rapat.
Ia menekankan bahwa pemerintah tidak boleh ragu membuka data apa adanya. Menurutnya, kejujuran dalam membaca data lapangan adalah fondasi utama untuk merumuskan kebijakan yang tepat sasaran, ketimbang sekadar menjaga citra daerah.
”Sedih? Tentu sedih. Pencitraan bagi Kota Batu tentu kita harap tidak terjadi. Namun, semakin cepat kasus stunting diketahui, semakin cepat pula intervensi dilakukan,” tegas Alfi.
Dalam pandangan Pemkot Batu, penanganan stunting tidak bisa dibebankan semata-mata kepada Dinas Kesehatan. Sinergi lintas sektoral menjadi harga mati. Alfi menyebut aparatur di tingkat desa, kelurahan, dan kecamatan sebagai garda terdepan karena mereka bersentuhan langsung dengan dinamika harian warga.
Menariknya, mantan Kadisdik ini mendorong budaya gotong royong lokal sebagai solusi cepat ketika menemui kendala di tingkat bawah. Ketika ada anak yang mengalami kesulitan asupan gizi atau berasal dari keluarga prasejahtera, penanganannya tidak harus selalu menunggu birokrasi anggaran pemerintah turun.
”Ketika ada anak-anak yang kurang mau makan atau ada keluarga yang kurang mampu, maka ada tanggung jawab, ada rasa gotong royong, ada udunan. Itulah yang kita maksud konvergensi lintas sektoral untuk bersama-sama mengentaskan stunting,” jelasnya.
Di tengah situasi ekonomi yang dinamis, Pemkot Batu menyadari bahwa daya beli masyarakat menjadi salah satu hambatan dalam pemenuhan gizi anak. Tidak sedikit keluarga yang kesulitan sekadar untuk menyediakan susu atau makanan pendamping berkualitas bagi buah hati mereka.
Kendati demikian, intervensi stunting dipastikan tidak berhenti pada urusan piring makan semata. Faktor lingkungan turut mendapat sorotan tajam. Alfi mengingatkan bahwa aspek sanitasi dan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) memegang peranan krusial terhadap tumbuh kembang anak.
“Karena itu, Pemkot Batu melibatkan Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, serta bidang cipta karya untuk turun tangan membenahi infrastruktur dasar sanitasi masyarakat di tingkat tapak,” imbuhnya.
Melalui komitmen bersama yang diawali dengan keterbukaan data, Pemkot Batu optimis langkah pencegahan dapat dieksekusi secara cepat dan tepat. Tujuannya satu: menekan angka stunting hingga tuntas demi masa depan generasi emas Kota Batu.(eri/lim)





