Kreativitas Inklusif di BKSN 2026 KB-TK Mardi Wiyata
MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Gelak tawa dan tepuk tangan meriah membahana di KB-TK Mardi Wiyata Malang, Jumat (25/9/2026). Perayaan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026 berubah menjadi panggung aksi kreatif. Ratusan anak usia dini tampil percaya diri, memadukan pembelajaran iman dengan seni.
Aura keceriaan terpancar sejak pagi. Anak-anak Kelompok Bermain (KB) dan TK A bernyanyi dengan penuh semangat. Lagu-lagu rohani berkumandang nyaring dari mulut-mulut mungil mereka. Tak kalah menyedot perhatian, siswa TK B beraksi di atas panggung dalam balutan busana bernuansa Alkitab.
Peragaan busana itu menampilkan beragam karakter tokoh Kitab Suci. Langkah kaki mungil para siswa menyusuri panggung disambut sorak kebanggaan orang tua. Mengusung tema “Yesus Guru yang Penuh Kuasa: Wajah Yesus dalam Injil Matius”, sekolah ingin menanamkan figur teladan sejak dini. Konsep acara pun dibuat interaktif agar tak membosankan.
Kepala KB-TK Mardi Wiyata Malang, Fr. M. Chrisostomus, BHK, S.Pd (Fr. Tomy), menegaskan pentingnya inovasi dalam pembelajaran iman anak. “Kalau tahun kemarin anak-anak diajak bertutur cerita Kitab Suci, kali ini kami ubah. Anak-anak KB dan TK A bernyanyi, sedangkan TK B fashion show. Ini bentuk kreativitas kami supaya kegiatan tidak monoton,” ujar Fr. Tomy di sela acara.
Pendekatan seni terbukti ampuh. Lirik lagu yang dipadu nada riang membantu pesan spiritual meresap lebih dalam ke memori anak. “Lewat bernyanyi, materi terekam dalam ingatan mereka. Anak-anak jadi tahu bahwa Yesus adalah guru sejati. Selain guru di sekolah, ada sosok lebih tinggi yang harus dicontoh,” tambahnya.
Materi pun disesuaikan secara cermat. Lagu untuk tingkat KB dibuat lebih ringkas dibanding TK A agar pas dengan daya ingat mereka. Hal paling berkesan dari gelaran ini adalah inklusivitas. Pihak sekolah memastikan seluruh siswa terlibat aktif. Tidak ada anak yang hanya menjadi penonton di sudut ruangan. ”Yang paling mengesankan, semua anak bisa tampil. Masing-masing memiliki potensi dan bakat berbeda. Inilah yang kami harapkan, anak-anak berproses sesuai kemampuannya,” ungkap Fr. Tomy penuh bangga.
Meski sekolah aktif membina karakter, Fr. Tomy mengingatkan bahwa benteng utama karakter anak tetaplah keluarga. Sekolah hanyalah mitra penyempurna. “Dasar keimanan yang paling utama itu tetap dari rumah. Ajaklah anak berdoa bersama papa dan mama, serta beribadah ke gereja. Peran orang tua sangat penting. Apa yang dimulai dari rumah, kami lanjutkan di sekolah,” tutupnya.
Peringatan BKSN 2026 ini membuktikan bahwa pendidikan iman bagi anak usia dini bisa dikemas menyenangkan, mengesankan, dan kaya makna. (hud/udi)





