Mahasiswa PBSI Unidha Bedah Strategi Jurnalistik Praktis Era Digital Bersama Malang Posco Media

Malang Posco Media, Malang – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Semester 3, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Wisnuwardhana (Unidha) Malang, mendapatkan pembekalan intensif mengenai dunia kepenulisan modern. Melalui kuliah tamu praktisi bertajuk “Membangun Jurnalistik Praktis di Era Digital”, para mahasiswa ditantang untuk tidak sekadar menulis kata, tetapi membangun konten yang memiliki nilai berita tinggi.
Kegiatan yang berlangsung di Lab Microteaching, Kamis (18/12), ini menghadirkan narasumber ahli, Buari, STP, selaku Manager Marcomm Malang Posco Media. Dalam paparannya, Buari menekankan bahwa di era digital yang serba cepat, konten adalah raja (Content is King).

Buari menjelaskan, media massa saat ini harus berpijak pada empat pilar utama untuk bertahan di era digital, yakni Konten, Sirkulasi, Readership (keterbacaan), dan Iklan. Mahasiswa diajak memahami bahwa sebuah tulisan tidak akan memikat pembaca jika tidak memiliki News Value atau nilai berita.
“Menjual konten harus berdasarkan nilai-nilai seperti aktualitas, kedekatan (proximity), ketokohan (prominence), hingga sisi kemanusiaan (human interest),” jelas Buari di hadapan para mahasiswa.
Dalam sesi teknis, Buari membedah bahwa tugas fundamental seorang reporter adalah menggali informasi yang menarik dan akurat. Ia membagi proses penggalian data menjadi tiga metode utama. Pertama, Rekaman Suasana, yakni melaporkan apa yang ditangkap oleh indera (mata, telinga, hingga perasaan). Kedua, Wawancara, yakni menggali opini atau menyerap latar belakang masalah dari tokoh kunci. Wawancara disebut sebagai cara penggalian bahan yang paling penting. Dan ketiga, Riset, yaitu mengumpulkan data pendukung seperti dokumen resmi, angka statistik, hingga dokumen sejarah.
“Kita tidak menulis hanya berbekal kata, tetapi berbekal informasi. Kata adalah simbol informasi, dan tanpa informasi yang menarik, kita tak akan mampu menemukan kata-kata yang memikat pembaca,” ungkapnya menekankan pentingnya riset lapangan.

Lebih lanjut, mahasiswa semester 3 ini diajarkan bahwa wartawan perlu melakukan wawancara karena mereka tidak selalu bisa memperoleh semua informasi secara langsung di lokasi kejadian. Wawancara berfungsi untuk rekonstruksi peristiwa melalui saksi mata atau mereka yang terlibat guna mendapatkan informasi faktual.
Dosen Pengampu mata kuliah Kewartawanan, Muh Irfan Mukhlisin S.Pd menyampaikan, melalui diklat ini, mahasiswa PBSI Unidha diharapkan mampu memaknai setiap kata yang mereka tulis dan siap menjadi praktisi komunikasi yang kompeten di tengah disrupsi digital. (nda)










