Sulap Kendaraan Listrik Menjadi Raksasa Hidrogen

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Bayangkan sebuah kendaraan masa depan yang hanya membutuhkan waktu lima menit untuk “mengisi nyawa” namun mampu menempuh jarak ratusan kilometer lebih jauh dari mobil listrik biasa. Visi ambisius inilah yang melatarbelakangi kolaborasi antara Universitas Brawijaya (UB) dan PT PLN (Persero) melalui proyek konversi kendaraan Hybrid Hydrogen–EV.
Bertempat di Gedung Layanan Bersama UB pada Jumat (24/4), kedua institusi ini resmi melakukan Kick Off Meeting untuk memulai revolusi energi bersih. Proyek ini bukan sekadar riset di atas kertas, melainkan langkah nyata mengintegrasikan teknologi listrik dan hidrogen dalam satu mesin.
Inovasi ini membawa paradigma baru dalam dunia otomotif nasional. Jika biasanya mesin bensin dikonversi menjadi listrik, kali ini tim ahli melakukan lompatan lebih tinggi: mengonversi kendaraan listrik (Electric Vehicle) murni menjadi berbasis hidrogen.
General Manager PT PLN, Ir. H. Mochammad Soleh, S.T., M.T., menjelaskan bahwa keunggulan utama sistem ini terletak pada efisiensi waktu dan daya jelajah.
“Jika pengisian baterai listrik butuh 30 menit, dengan sistem hidrogen prosesnya hanya lima menit. Dengan tambahan hidrogen, daya tempuh kendaraan yang tadinya 500 kilometer bisa melesat jauh lebih tinggi,” ungkapnya optimis.
Proyek ini turut melibatkan tim mahasiswa legendaris dari Fakultas Teknik, Apatte 62 UB, yang sudah tersohor dalam pengembangan mobil hemat energi. Bagi UB, kolaborasi ini adalah ruang bagi para peneliti untuk tidak hanya menciptakan alat, tapi juga membangun ekosistem.
Senada dengan hal tersebut, Pimpinan DIKST UB, Brillyanes Sanawiri, Ph.D., berharap kerja sama ini menjadi wadah bagi dosen UB untuk menyalurkan gagasan yang berdampak nyata bagi industri nasional.
Target besar telah dipatok. Dengan komponen fuel cell yang sudah diterima, proses modifikasi akan dikebut agar siap diuji coba pada Juni mendatang. PLN berharap langkah ini memicu industri otomotif dalam negeri untuk mulai mendesain kendaraan yang siap dikonversi secara mandiri.
Dipilihnya hidrogen bukan tanpa alasan. Gas ini adalah energi masa depan yang paling murni karena dihasilkan dari elektrolisis air. “Melalui kolaborasi ini, UB dan PLN tidak hanya sedang membangun kendaraan, tetapi sedang merancang cetak biru transportasi Indonesia yang bebas karbon dan berkelanjutan,” pungkasnya. (hud/imm/udi)




