Pemkot-Kontraktor Akui Material Lama

TERBATAS ANGGARAN: Perosotan yang rusak ini ternyata bukan material baru. Ini playground lama yang saat revitalisasi Alun-Alun Kota Malang hanya dilakukan perbaikan dan difungsikan kembali. MPM - MUHAMMAD FIRMAN

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Setelah disorot banyak pihak, kontraktor dan Pemkot Malang akhirnya memberikan penjelasan detail terkait kerusakan fasilitas playground di Alun-Alun Merdeka Malang. Perosotan yang rusak disebut merupakan bagian dari modul lama yang sejak awal hanya direncanakan untuk diperbaiki, bukan diganti baru.

Sementara Komisi C DPRD Kota Malang menyayangkan fakta bahwa fasilitas yang rusak adalah material lama, bukan baru. Komisi C menilai kerusakan bisa berisiko terhadap keselamatan anak atau pengguna, dan meminta agar fasilitas yang rusak segera ditutup sementara.

Pimpinan Proyek (Pimpro) kontraktor Alun-Alun Merdeka, Yoseph Dwi Prasetya Adi menjelaskan bahwa dalam perencanaan awal pada 2024, kondisi playground masih dinilai layak untuk diperbaiki dan dipasang kembali.

“Namun saat pelaksanaan pekerjaan di 2025, kerusakan pada modul tersebut semakin melebar. Vendor sebenarnya menyarankan untuk diganti, tapi karena mata anggaran yang tersedia hanya untuk perbaikan, kami tetap melakukan perbaikan sesuai perencanaan,” jelasnya.

Ia menambahkan, vendor bersama kontraktor tetap akan melakukan perbaikan selama masa pemeliharaan. Meski demikian, jaminan ketahanan pasca perbaikan tidak bisa diberikan karena kondisi material lama yang sudah mengalami kerusakan cukup parah.

“Untuk jaminan ketahanan, memang disarankan penggantian modul. Saat ini proses identifikasi sudah dimulai dan estimasi perbaikan sekitar satu minggu,” tambahnya.

Hal senada disampaikan Plh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang. Ia menegaskan bahwa sejak awal konsep revitalisasi memang terdiri dari dua jenis pekerjaan. Yakni pembangunan playground baru dan perbaikan fasilitas lama.

“Yang rusak itu memang bagian yang hanya diperbaiki, bukan yang baru. Karena mengikuti perencanaan awal dan keterbatasan anggaran,” ujarnya.

Raymond juga mengakui bahwa tingginya intensitas penggunaan playground turut mempercepat kerusakan. Minimnya pengawasan di lokasi membuat anak-anak kerap menggunakan fasilitas tidak sesuai fungsi. “Seharusnya itu untuk meluncur, tapi sering diinjak-injak. Karena tanpa pengawasan, anak-anak bermain bebas dan itu memicu kerusakan,” jelasnya.

Untuk mencegah kerusakan semakin parah, Pemkot Malang berencana menutup sementara area playground yang rusak selama proses perbaikan berlangsung. “Nanti akan kita tutup sementara saat perbaikan dilakukan,” tegasnya.

Selain itu, pihaknya juga akan memanfaatkan masa pemeliharaan dari penyedia untuk melakukan pembenahan. Sementara untuk pengembangan fasilitas tambahan melalui skema CSR, Pemkot mengaku masih dalam tahap penjajakan.(rex/lim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *