FTAB UB Dorong Industrialisasi Porang, Prof Simon: Indonesia Jangan Terus Bergantung Impor Tepung Glukomanan

MALANG POSCO MEDIA – Universitas Brawijaya melalui Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) —sebelumnya Fakultas Teknologi Pertanian (FTP)— terus mendorong penguatan industri porang nasional. Guru Besar FTAB UB, Prof.Ir.Simon Bambang Widjanarko, M.App.Sc., PhD menilai Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemain utama industri tepung glukomanan (GM), asalkan pembangunan industrinya dilakukan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Menurut Prof Simon, tanaman porang sejatinya sudah lama dikenal masyarakat Jawa Timur, khususnya di wilayah Madiun dan Saradan. Bahkan, budidaya porang mulai berkembang sejak tahun 1980-an dan menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi dalam beberapa tahun terakhir.
“Porang booming menjadi komoditas andalan di Jawa Timur karena mengandung glukomanan hingga 85 persen. Glukomanan ini merupakan serat pangan larut air yang rendah kalori dan sangat potensial digunakan untuk pangan sehat,” terang Prof Simon.
Ia menjelaskan, glukomanan banyak dimanfaatkan sebagai bahan hidrokoloid pada produk pangan, terutama minuman jelly drink, mie shirataki hingga produk pangan sehat lainnya. Kandungan tersebut juga dikaitkan dengan manfaat kesehatan seperti antiobesitas, prebiotik, antiinflamasi hingga antitumor.
Namun demikian, industri pengolahan glukomanan di Indonesia dinilai masih tertinggal. Hingga kini, sebagian besar industri porang nasional masih berfokus pada produksi chips atau keripik porang untuk ekspor ke Cina, Jepang, Taiwan dan beberapa negara lainnya.
“Indonesia justru masih impor 100 persen tepung glukomanan, terutama dari Cina. Padahal bahan bakunya melimpah di dalam negeri,” tegas dosen yang juga mantan Dekan FTP UB periode 2002-2007 ini.
Prof Simon menilai persoalan utama bukan hanya pada teknologi produksi, tetapi juga belum adanya program nasional yang terintegrasi untuk membangun industri tepung glukomanan. Mulai dari budidaya, pascapanen, teknologi pengolahan hingga kepastian pasar masih berjalan parsial.
Karena itu, ia mendorong pemerintah, peneliti, akademisi dan pelaku industri duduk bersama menyusun roadmap industrialisasi porang nasional.
“Sudah saatnya disusun program hulu-hilir untuk mendukung industrialisasi tepung glukomanan yang mampu menggantikan impor di Indonesia,” ujarnya.
Ia menambahkan, Jawa Timur memiliki potensi besar sebagai pusat industri porang nasional, terutama di wilayah Madiun, Ponorogo, Bojonegoro hingga Jember. Menurutnya, perlu dilakukan kajian menyeluruh terkait kapasitas produksi, luas lahan tanam hingga kebutuhan investasi industri tepung glukomanan.
Dalam aspek teknologi, Prof Simon menyoroti pentingnya inovasi proses produksi. Selama ini, industri dalam negeri masih dominan menggunakan metode kering, sementara produk impor dari Cina diduga memakai metode basah yang menghasilkan kualitas lebih baik untuk kebutuhan industri minuman.
“Tepung glukomanan produksi Indonesia masih terkendala pada aspek warna dan kekentalan, sehingga belum memenuhi standar industri jelly drink,” jelasnya.
Ia menegaskan, kontrol kualitas menjadi faktor penting agar produk lokal mampu bersaing di pasar global. Standar mutu pun harus mengacu pada standar Konjac Gum Eropa agar produk Indonesia memiliki daya saing ekspor.
Tak hanya itu, penanganan pascapanen umbi porang juga dinilai menjadi kunci keberhasilan industri. Umbi dengan kualitas buruk akan menghasilkan tepung berwarna gelap dan meningkatkan biaya pemurnian.
Di sisi lain, prospek industri tepung glukomanan dinilai sangat menjanjikan. Dengan jumlah penduduk usia produktif Indonesia mencapai lebih dari 191 juta jiwa, pasar pangan sehat berbasis glukomanan dinilai sangat besar.
“Kalau hanya satu persen saja masyarakat usia produktif mengonsumsi produk berbasis glukomanan, maka nilai perdagangan tepung glukomanan bisa mencapai puluhan triliun rupiah per tahun,” ungkapnya.
Prof Simon optimistis masa depan industri porang Indonesia masih sangat cerah. Namun, keberhasilannya membutuhkan sinergi kuat antara pemerintah, dunia usaha dan perguruan tinggi.
“Kerja sama pemerintah, dunia bisnis dan perguruan tinggi menjadi tiga fondasi utama untuk mewujudkan industri tepung glukomanan yang kuat dan mandiri di Indonesia,” pungkasnya. (adv/bua)


