Ekonomi Suram Akibat Pemadaman Bergiliran, Sejumlah Sektor Bisnis Kena Dampak, Omzet Anjlok 60 Persen

MALANG POSCO MEDIA-Pemadaman bergiliran listrik yang terjadi belakangan memukul sejumlah usaha di Malang Raya. Omzet usaha jatuh. Bahkan hingga 60 persen. Apalagi mati lampu pada jam produktif. (baca grafis)
Terutama bagi pelaku usaha yang bergantung pada energi listrik. Seperti salah satunya usaha fotokopi dan percetakan, yakni Rifa Digital Printing yang berlokasi di Jalan LA Sucipto.

Pemilik Rifa Digital Printing, Fahaza sangat kecewa dengan pelayanan PLN. Bukan tanpa sebab, belum genap dua minggu terakhir saja, pemadaman sudah terjadi tiga kali. Dua kali pemadaman diberikan pemberitahuan, sementara satu kali tidak ada informasi maupun pemberitahuan sama sekali.
Pemadaman bergilir yang terjadi itu dirasakan berat karena waktu pemadaman yang dilakukan pada jam produktif. Yakni mulai pagi hingga siang, bahkan sore. Hal ini berdampak secara langsung pada pemasukan atau omzet hariannya.
Apabila per hari setidaknya ada 70 konsumen, ketika pemadaman akibatnya menolak hingga 30 konsumen lebih. Bahkan ia menengarai ada salah satu mesinnya mengalami kerusakan juga akibat pemadaman tersebut.
“Dampaknya sangat ngefek sekali bagi saya secara pemasukan atau income saya. Bisa turun 60 persen lebih. Minimal mati listrik itu kan tiga jam, lalu yang paling lama kemarin itu kan enam jam,” keluh Fahaza.
Ia pun mengaku sebenarnya telah melayangkan aduan dan protes kepada PLN. Sayangnya respon yang diterima tidak cukup memuaskannya. Banyak juga rekannya sesama pelaku usaha yang mengeluhkan kondisi tersebut.
Kondisi yang hampir sama dirasakan Tria Kusumawardani, salah satu pelaku usaha laundry di Jalan Ahmad Yani. Oleh sebab usahanya sangat bergantung pada kelistrikan, pemadaman listrik seperti belakangan ini membuatnya sangat jengkel.
Keluhan massal datang dari para pelaku usaha dan pedagang di kawasan Kota Batu. Pemadaman listrik bergilir yang dilakukan oleh pihak PLN tanpa adanya sosialisasi atau pemberitahuan terlebih dahulu dinilai sangat mencekik urat nadi perekonomian warga.
Tidak sedikit pedagang yang harus menelan kerugian karena kehilangan waktu operasional emas (prime time) mereka, terutama saat akhir pekan (weekend). Kondisi yang kian sering terjadi ini memicu kekhawatiran mendalam di kalangan pelaku usaha.
Dampak paling nyata dirasakan para pedagang di kawasan Alun-Alun Kota Batu. Ketua Paguyuban Pelaku Niaga Sipil (PNS) Alun-Alun Kota Batu, Puspita Herdysari, mengungkapkan pemadaman yang terjadi pada akhir pekan kemarin berlangsung cukup lama dan berada di jam-jam krusial tempat orang mencari rezeki.
”Kemarin mati sejak pukul 15.00, baru nyala pukul 19.15 WIB. Pas nyala, pengunjung wes (sudah) hilang. Satu hari pas weekend itu kita kehilangan prime time 4 jam tidak bisa melayani pembeli,” kelih Puspita dengan nada kecewa.
Pipit sapaan akrabnya menambahkan, untuk pedagang yang sangat bergantung pada listrik seperti penjual es yang menggunakan blender dan cup sealer, pemadaman ini otomatis menghentikan total aktivitas jualan mereka.
Menurutnya, ini sudah kali kedua terjadi pemadaman berdurasi lama tanpa ada notifikasi atau warning apa pun dari pihak PLN.
Keluhan senada juga disampaikan Risma, pemilik usaha Rental Risma PS di Kota Batu. Sebagai lini bisnis yang 100 persen menggunakan daya listrik, pemadaman bergilir ini menjadi hantaman keras bagi pendapatannya.
Tidak hanya sektor kuliner dan hiburan, sektor industri rumahan (home industry) seperti produsen roti dan keripik buah juga dibuat kelimpungan. Khamim Tohari, salah satu pelaku usaha keripik buah di Kota Batu, menyebut pemadaman ini mengacaukan target waktu produksi.
”Usaha saya semua pakai listrik. Kalau mati lampu, otomatis tidak bisa kerja. Dampaknya bukan cuma penurunan omset, tapi waktu produksi yang molor. Biasanya sore sudah selesai, ini harus sampai malam,” jelas Khamim.
Menggeser waktu produksi ke malam hari juga bukan perkara mudah bagi Khamim. Mesin pengolah keripik buah miliknya mengeluarkan suara yang cukup keras, sehingga berpotensi mengganggu kenyamanan tetangga jika dioperasikan malam hari. Akibatnya, volume produksi terpaksa menurun.
Khamim menyayangkan sikap PLN yang terkesan abai terhadap nasib rakyat kecil yang sedang berjuang memutar roda ekonomi.
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu menyatakan pemadaman ini memberikan dampak signifikan terhadap operasional akomodasi. Terlebih saat ini tengah memasuki masa liburan sekolah yang menjadi momen krusial bagi kunjungan wisatawan.
Ketua PHRI Kota Batu, Sujud Hariadi, mengungkapkan dampak paling nyata yang dirasakan pihak hotel, membengkaknya biaya operasional secara tajam. Ketika aliran listrik dari PLN terputus, pihak hotel terpaksa mengalihkan sumber daya ke generator set (genset).
“Penggunaan genset ini memakan biaya yang jauh lebih tinggi lantaran harga BBM industri saat ini masih menyentuh kisaran Rp 25 ribu per liter, sebuah angka yang dinilai sangat memberatkan manajemen hotel,” ungkapnya.
Selain masalah biaya, Sujud juga menyoroti kendala teknis terkait kapasitas genset. Menurutnya, tidak semua hotel memiliki kapasitas genset yang mampu menutup seluruh kebutuhan listrik pada saat beban pemakaian maksimal.
Sujud menjelaskan bahwa sebagian besar hotel di Kota Batu menjual daya tarik berupa pemandangan malam hari (night view) yang dapat dinikmati langsung dari kamar atau restoran hotel. Dalam kondisi normal, tamu dapat menikmati kemilau cahaya lampu dari wilayah pusat kota ke arah Batu utara. Pemadaman bergilir ini otomatis menghilangkan keindahan panorama tersebut, yang berpotensi menurunkan tingkat kepuasan para tamu yang menginap.
Wilayah Kecamatan Singosari Kabupaten Malang kebagian pemadaman lampu bergilir. Pemadaman yang diketahui karena adanya kendala teknis operasional ini berlangsung pada Sabtu (20/6) lalu.
Salah satu titik terdampak pemadaman lampu di lingkungan RW 8 Desa Candirenggo Kecamatan Singosari. Lampu mengalami pemadaman sekitar tiga jam.
Masyarakat kini berbondong-bondong membeli generator set (genset), agar listrik tetap menyala saat terjadi pemadaman sewaktu-waktu.
Salah satu toko yang melayani penjualan genset yakni Mega Teknik di Jalan Sutan Syahrir Kecamatan Klojen Kota Malang. Pemilik toko, Agus, mengatakan kenaikan penjualan ini terjadi sejak selama dua pekan lalu, yang mencapai 25 hingga 50 persen.
Ia menyebut, pembelian genset didominasi oleh pemakaian rumah tangga hingga industri. Pelangganya banyak yang membeli genset untuk kapasitas 2.000 hingga 5.000 watt.
“Kalau untuk rumahan atau pedagang biasa, seperti di tenda atau kios kecil, biasanya yang dicari kapasitas 1.000 sampai 2.000 watt. Dan sekarang yang banyak dicari itu, untuk kapasitas 2.000 hingga 5.000 watt,” sebutnya.
Pria berusia 43 tahun ini menjelaskan, pelangganya tak hanya terbatas di wilayah Malang Raya saja. Melainkan, sampai ke wilayah Bali hingga Papua.
“Banyak juga permintaan dari luar pulau. Kami berusaha terus memenuhi stok, karena sejak terjadinya konflik internasional di selat Hormuz beberapa waktu lalu, ini juga berdampak terkait beberapa ketersediaan barang, termasuk genset ini,” lanjut Agus. (ian/eri/den/rex/van)




