Harga BBM Non Subsidi Turun; Penjualan di SPBU Masih Didominasi Solar

MALANG POSCO MEDIA, MALANG– Kebijakan pemerintah yang menurunkan harga sejumlah jenis bahan bakar minyak (BBM) non subsidi belum memberikan dampak signifikan terhadap pola konsumsi masyarakat di Kabupaten Malang.
Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga terhadap BBM non subsidi yang berlaku efektif mulai Rabu (1/7) pukul 00.00 WIB. Penyesuaian ini juga sudah berlaku di SPBU yang ada di Malang. “Penyesuaian harga BBM non subsidi mengacu pada dinamika harga pasar minyak dunia dan mengikuti regulasi atau mekanisme yang berlaku. Tentunya langkah penyesuaian ini telah dikoordinasikan dengan pemerintah,” ujar Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, dalam keterangan resmi yang diterima Malang Posco Media, Rabu (1/7).
Dalam penyesuaian tersebut, sejumlah produk seperti Pertamax Turbo, Pertamina Dex, Dexlite, dan Avtur mengalami penurunan harga. Kitty menguraikan, Pertamax Turbo turun dari Rp 20.750 per liter menjadi Rp 19.300 per liter. Pertamina Dex turun dari Rp 24.800 per liter menjadi Rp 21.150 per liter. Sedangkan, BBM jenis Dexlite turun dari Rp 23.000 per liter menjadi Rp 19.700 per liter.
“Selain menghadirkan harga yang kompetitif, kami juga terus memastikan kualitas produk sesuai spesifikasi sehingga masyarakat memperoleh manfaat optimal, baik dari sisi performa kendaraan maupun efisiensi penggunaan bahan bakar,” tambah Kitty.
Sementara itu, kondisi pelayanan dan penjualan di SPBU Pepen yang terletak di antara jalan raya Kecamatan Pakisaji – Kepanjen Kabupaten Malang, terpantau masih berjalan normal tanpa adanya lonjakan antrean. “Iya, tetap ada penurunan harga. Namun sejauh ini belum ada peralihan konsumsi. Selisih harganya kan cuma sedikit,” ujar seorang petugas SPBU Pepen saat ditemui di lapangan.
Di sisi lain, untuk volume penjualan harian, jenis BBM yang sejauh ini paling banyak terjual dan diminati di SPBU jalur Malang-Kepanjen tersebut adalah jenis solar. “Stok yang paling banyak terjual itu jenis solar. Paling banyak dikonsumsi oleh kendaraan niaga,” papar petugas tersebut.
Di sisi lain, para pelaku usaha logistik dan angkutan barang memilih untuk tetap bertahan menggunakan BBM jenis solar. Faktor efisiensi biaya operasional menjadi alasan sopir truk enggan beralih ke varian diesel yang dinilai masih mahal seperti dexlite meski mengalami penurunan. Hal tersebut diungkapkan oleh Yogi Prasetyo, 24, seorang sopir truk asal Sidoarjo saat ditemui di sela-sela aktivitasnya mengirim barang ke wilayah Malang.
Yogi mengaku, untuk operasional truknya sehari-hari, ia memilih setia menggunakan solar yang saat ini harganya Rp 6.800 per liter. Menurutnya, selisih harga yang terlampau jauh dengan BBM non subsidi membuat opsi beralih jenis BBM belum memungkinkan bagi armada logistik.
“Nggak ada rencana beralih, tetap pakai solar. Perbandingan harganya jauh sekali,” ujar Yogi seraya menjelaskan, sekali melakukan pengisian di SPBU, dirinya biasa merogoh kocek antara Rp 300 ribu.
Bagi Yogi, BBM jenis Dexlite atau Pertamina Dex saat ini lebih cocok diperuntukkan bagi kendaraan pribadi kelas atas. “Terlalu mahal kalau pakai Dexlite, jadi pakai solar saja dulu. (dexlite) itu paling buat kelas mobil-mobil seperti Pajero,” tambah pria pengantar bahan akrilik ini. (den/udi)




