Kabar Haji 2026; Cerita dari Tanah Suci Madinah, Perjalanan Mbah Sarjo Menembus Gelap Menuju Raudhah dan Baitullah

Mch2026_mpm SEMANGAT: Mbah Sarjo Utomo yang tetap semangat meski kondisi fisik terbatas, semangat menjadi haji mabrur dan berdoa di Raudhah harapannya.

MALANG POSCO MEDIA, MADINAH — Pintu bus itu terbuka perlahan di depan Hotel Taiba Front Madinah. Satu per satu jemaah turun, sebagian dengan langkah ringan, sebagian lagi dengan tubuh yang harus ditopang setelah berada 10 jam dalam perjalanan di pesawat terbang.

Di antara kerumunan Kloter YIA 1rombongan pertama dari Embarkasi Yogyakarta yang datang beberapa waktu lalu, seorang lelaki tua muncul paling akhir. Tangannya menggenggam lengan yang menuntunnya hati-hati. Ia tak lagi bisa melihat, tetapi langkahnya mantap, seolah tahu persis ke mana ia akan pergi.

Namanya Sarjo Utomo, 71 tahun, asal Wates, Yogyakarta. Petugas sigap menyambut. Kursi roda disiapkan. Tubuh renta itu perlahan didudukkan, lalu didorong menuju pintu hotel. Di tengah riuh kedatangan 360 jemaah asal Yogyakarta, kisah Sarjo berjalan dalam diam sunyi, tetapi sarat makna.

Hidup Mbah Sarjo tidak pernah dimulai dari kemudahan. Masa mudanya dihabiskan di kandang sapi, bekerja sebagai pembantu pada seorang pedagang. Ia membersihkan kotoran, memberi pakan, hingga mengantar ternak ke pasar. Tak ada bangku sekolah yang tinggi, tak ada teori bisnis yang rumit. Namun dari situlah ia belajar.

Ia mengamati. Cara orang menawar, cara pedagang mengambil keputusan, hingga kebiasaan pembeli di pasar. Pelan-pelan, pengalaman menggantikan pendidikan formal. Dari pekerja kasar, ia naik menjadi pedagang sapi.

Usahanya tak langsung besar. Tapi cukup untuk mengubah arah hidup. Sedikit demi sedikit ia mengumpulkan uang, membeli tanah, lalu sawah. Dari hasil itulah ia membesarkan keluarga.

Mbah Sarjo tidak pernah merasa hidupnya istimewa. Ia hanya bekerja. Tetapi hasilnya terasa nyata tiga anak tumbuh dewasa, dua di antaranya bahkan mengenyam pendidikan tinggi.

“Saya cuma mendukung saja,” katanya singkat.

Ketika hidup mulai terasa stabil, cobaan datang tanpa aba-aba. Matanya bermasalah. Dokter menyatakan penyakit itu tak bisa disembuhkan. Upaya pengobatan justru memperburuk keadaan, hingga akhirnya dunia menjadi gelap sepenuhnya.

Dalam kondisi itu, Mbah Sarjo dihadapkan pada pilihan menghabiskan harta untuk berobat, atau menunaikan ibadah haji.

Ia memilih yang kedua. Keputusan itu bukan tanpa harga. Sawah dan tanah yang dikumpulkan selama bertahun-tahun dijual. Semua dilepas. Ia mendaftar haji bersama istri dan anaknya.

Namun takdir kembali menguji. Istrinya wafat dua setengah tahun lalu. Kepergian itu menyisakan ruang kosong yang tak tergantikan.

Mbah Sarjo mendaftar haji pada 2018. Nomor porsinya menunjukkan ia baru akan berangkat pada 2041. Jarak yang terasa terlalu jauh bagi usianya. Namun jalan hidup kerap menyelipkan kejutan.

Tahun ini, ia justru berangkat lebih cepat karena mendampingi anak perempuannya sebagai mahram. Kesempatan itu datang di saat yang nyaris gagal. Pembeli tanah yang diharapkan tak kunjung memberi kepastian, sementara batas waktu pelunasan semakin dekat.

Beberapa hari sebelum tenggat, seseorang datang dan langsung membeli. Mbah Sarjo menyebutnya sederhana, bahkan dengan nada bercanda, “Saya ini haji wahyu. Haji karena sawah payu (laku,red),” dengan senyumnya.

Tawanya ringan. Tapi di balik itu, tersimpan keyakinan yang dalam bahwa perjalanan ini memang sudah digariskan.

Setibanya di Madinah, Mbah Sarjo tidak membawa banyak keinginan. Tidak ada daftar panjang doa. Tidak pula harapan tentang dunia.

Ia hanya ingin satu hal masuk ke Raudhah, tempat antara rumah dan mimbar nabi yang mustajab.

Di tempat itu, ia ingin berdoa. Bukan meminta kesembuhan. Bukan meminta rezeki. Ia hanya ingin dipertemukan kembali dengan istrinya.

“Pingin nyusul,” ucapnya pelan.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi mengandung kerinduan yang panjang, kerinduan yang tak lagi mencari jawaban di dunia.

Perjalanan haji bagi banyak orang adalah ibadah fisik. Bagi Mbah Sarjo, ini lebih dari itu. Ini adalah rangkaian panjang hidup yang menemukan puncaknya dari kandang sapi, pasar ternak, sawah, kehilangan penglihatan, hingga akhirnya tiba di Tanah Suci Madinah Al Munawwarah.

Ia datang dengan tubuh yang terbatas, tetapi dengan tekad yang utuh. Di tengah jutaan jemaah yang membawa harapan masing-masing, Mbah Sarjo hanya membawa satu doa: sebuah pertemuan. semoga menjadi haji mabrur Mbah. (aim/van)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *