Makin Terik, Kekeringan Meluas, 18.236 Jiwa di Kabupaten Malang Terdampak Masalah Air Bersih

ATASI MASALAH: Petugas BPBD Kabupaten Malang mendistribusikan air ke wilayah kekeringan.
Pemutihan Pajak Daerah 2026

MALANG POSCO MEDIA- Wilayah terdampak kekeringan di Kabupaten Malang makin meluas. Selain itu tercatat sebanyak 18.236 jiwa dan sektor pertanian di Kabupaten Malang terkena dampak kekeringan berupa kekurangan air akibat kemarau.

Kini tercatat 13 desa di enam kecamatan di Kabupaten Malang yang terkena dampak kekeringan.

Padahal pekan sebelumnya, tercatat delapan desa di enam kecamatan yang terkena dampak musim kemarau.

Pemutihan Pajak Daerah 2026

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang,  13 desa itu masing-masing tiga desa di Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Yakni Desa Sumberagung, Desa Sitiarjo, dan Desa Kedungkanteng.

Kecamatan Gedangan di Desa Tumpakrejo. Kecamatan Sumberpucung, satu desa yang mengalami kekeringan yaitu Desa Karangkates.

“Sesuai data, di Kecamatan Donomulyo ada dua desa yang kekeringan. Kecamatan Kalipare ada empat desa, dan Kecamatan Pagak ada dua desa,’’ kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang Sadono Irawan.

Dia merinci dua desa di Kecamatan Donomulyo yaitu Desa Sumberoto dan Desa Tulungrejo. Sedangkan di Kecamatan Kalipare kekeringan melanda Desa Kalirejo, Desa Sumberpetung, Desa Putukrejo, dan Desa Arjosasi. Sedangkan di Kecamatan Pagak kekeringan melanda di Desa Sumberejo  dan Desa Pagak.

“Total warga terdampak  kekeringan di 13 desa tersebut sebanyak 5.702  KK atau 18.236 jiwa. Mereka kekurangan air bersih,’’ tambah Sadono.

Dia menyebutkan  BPBD Kabupaten Malang terus melakukan pendistribusian air bersih ke wilayah-wilayah terdampak kekeringan. Distribusi air bersih itu dilakukan sejak 8 Agustus 2026 lalu.

“Sampai sekarang terus dilakukan pendistribusian air bersih. Hanya saja data hari ini (kemarin) belum masuk. Tapi yang untuk Senin (28/9) air bersih yang kami distribusikan sebanyak 90.900 liter. Air bersih itu didistribusikan menggunakan enam armada, dengan total pengangkutan 19 rit,’’ tambahnya.

Selain menyalurkan air bersih, pihaknya juga menyalurkan tandon air ke wilayah kekeringan. Tandon tersebut digunakan untuk menampung air. Sehingga warga lebih mudah mendapatkan air bersih.

“Jadi warga tidak perlu menunggu kami datang. Karena setiap hari kami mengisi tandon, warga cukup mengantre di tandon tersebut untuk mendapatkan air bersih,’’ urainya.

Sejak bencana kekeringan  terjadi sampai  28 September 2026, BPBD Kabupaten Malang telah mendistribusikan air bersih sebanyak 3.124.150 liter.

“Untuk distribusi air bersih kami bekerjasama dengan PMI Kabupaten Malang dan Polres Malang,’’ tambahnya.

Lalu sampai kapan distribusi air bersih itu dilakukan? Sadono mengatakan sampai warga tidak lagi kekurangan air bersih. Menurutnya saat ini seluruh sumber air yang ada di wilayah terdampak kekeringan mengering. Kondisi ini terjadi saat musim kemarau.

“Nanti saat hujan turun, sumber yang ada di wilayah kekeringan ini akan dialiri air lagi. Jika kebutuhan warga terhadap air bersih telah terpenuhi, maka bantuan air bersih  dapat dihentikan,’’ kata Sadono.

Sementara itu, musim kemarau yang diperparah oleh fenomena El Nino berdampak terhadap  perkebunan jeruk di Desa Tegalweru Kecamatan Dau Kabupaten Malang. Banyak pohon yang mati.

Di sisi lain, terik matahari yang kian panas atau adanya peningkatan suhu beberapa hari belakangan ini tidak terlepas dari pengaruh perubahan iklim.

BMKG mengimbau   masyarakat untuk mengurangi aktivitas langsung di bawah sinar matahari pada siang hari, mencukupi kebutuhan cairan tubuh, serta menggunakan pelindung seperti topi atau payung ketika beraktivitas di luar ruangan.

Keadaan pelik perkebunan jeruk dialami Sanusi, petani kebun jeruk di Dusun Kraguman Desa Tegalweru Kecamatan Dau. Ia mengaku kondisi lahan perkebunan miliknya kering kerontang tanpa diguyur hujan sejak beberapa bulan terakhir. Akibatnya, sebanyak 14 pohon jeruk miliknya mati.

“Ada 14 pohon yang mati karena kekeringan. Tidak ada air.  Jeruk kan membutuhkan air,” ujar Sanusi saat ditemui di depan lahan perkebunan jeruk miliknya, Selasa (29/9) kemarin.

Terpaksa  belasan pohon jeruk itu dipotong oleh Sanusi. Ia mengungkapkan bahwa kekeringan tahun ini terasa jauh lebih parah dibanding tahun sebelum-belumnya.

Di sekitar lahan perkebunan milik Sanusi, juga kini terdapat pohon jeruk milik petani lainnya dalam kondisi mati.

Petani berusia 62 tahun tersebut mengakui memang lahan perkebunan di Dusun Kraguman Desa Tegalweru Kecamatan Dau menghadapi tantangan berat akibat musim kemarau ini.

Ironisnya, di wilayah setempat belum ada irigasi maupun sumur bor. Para petani terpaksa menggantungkan nasib tanaman jeruk mereka sepenuhnya pada alam, yakni mengandalkan turunnya hujan.

“Di sini memang mengandalkan hujan sudah sejak lama. Kalau menyiram menggunakan jasa harus membeli air, satu kubiknya seharga Rp 70 ribu,” keluh Sanusi.

Meski sempat ada wacana bantuan pengadaan sumur bor dari Pemkab Malang pada tahun sebelumnya, program tersebut urung direalisasikan. Alhasil  para petani terus bergulat dengan siklus cuaca.

“Kalau mau  inisiatif ya sumbur bor itu. Kalau di Dusun Jengglong sudah ada,” tambah Sanusi.

Forecaster BMKG Staklim Jatim, Iis Winarsih, mengatakan kondisi cuaca panas dan terik yang dirasakan masyarakat Malang dalam beberapa hari terakhir merupakan hal yang berkaitan dengan kondisi atmosfer pada periode musim kemarau.

“Pada periode ini, tutupan awan relatif sedikit sehingga radiasi matahari yang mencapai permukaan bumi lebih optimal. Akibatnya, pemanasan permukaan berlangsung lebih intensif dan suhu udara pada siang hari terasa lebih panas,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa salah satu penyebab kondisi suhu panas karena  perubahan iklim. Pada bulan Oktober mendatang juga disebutkan mengalami kenaikan suhu.

“Selain itu, wilayah Jawa Timur saat ini masih berada dalam periode musim kemarau, yang ditandai dengan berkurangnya tutupan awan dan rendahnya peluang hujan di sejumlah wilayah,” lanjut Iis.

Ia menambahkan, kondisi panas juga dapat dipengaruhi oleh posisi gerak semu matahari yang pada periode September bergerak menuju belahan bumi selatan, sehingga penyinaran matahari di wilayah Indonesia bagian selatan masih cukup intensif.

Namun demikian, intensitas suhu dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer dan perkembangan musim hujan di wilayah Jawa Timur.

“Masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas langsung di bawah sinar matahari pada siang hari, mencukupi kebutuhan cairan tubuh, serta menggunakan pelindung seperti topi atau payung ketika beraktivitas di luar ruangan,” pungkasnya. (ira/den/van)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *