SD Islam Sabilillah Malang 2, Inovasikan Outing Class Berbasis Proyek

SEMANGAT: Siswa-siswi kelas 1 SD Islam Sabilillah Malang 2 tampak semangat mengikuti kegiatan outing class di WESB.
Pemutihan Pajak Daerah 2026

MALANG POSCO MEDIA, MALANG– Belajar tidak selamanya harus di balik meja atau menatap layar laptop. SD Islam Sabilillah Malang 2 (SDIS 2) membuktikan bahwasanya proses edukasi yang paling membekas justru terjadi saat siswa berinteraksi langsung dengan lingkungan. Melalui program Outing Class, para siswa diajak melangkah keluar ruangan untuk menyerap ilmu pengetahuan secara kontekstual dari alam sekitar.

​Koordinator Outing Class SDIS 2, Firahil Syaifinnabilah, S.Pd., menegaskan bahwa metode pembelajaran berbasis lapangan ini sangat penting untuk mencegah teori yang dipelajari siswa menguap begitu saja. ​”Di kelas siswa sering kali belajar terbatas dari layar dan kertas, tapi di outing class siswa belajar secara langsung. Mereka mendapat pengalaman yang benar-benar kontekstual,” ujar perempuan yang akrab disapa Fira ini, Senin (28/9).

​Fira menjelaskan bahwa program ini bukan sekadar agenda jalan-jalan pengisi waktu luang. Sekolah menetapkan sasaran besar, yakni sebagai sarana penyegaran pikiran sekaligus ruang melatih kemandirian, rasa tanggung jawab, serta menumbuhkan jiwa sosial dan kekompakan antarsiswa.

Pemutihan Pajak Daerah 2026

Pemilihan lokasi Outing Class pun melewati pertimbangan yang ketat agar selalu selaras dengan Tujuan Pembelajaran di kelas. Sebagai contoh, saat mempelajari materi bagian-bagian tumbuhan dalam mata pelajaran IPA, sekolah memboyong siswa ke Politeknik Pembangunan Pertanian. Di tempat tersebut, para siswa dapat mengamati dan menyentuh langsung objek belajar mereka, bukan sekadar membacanya di buku teks.

Dalam pelaksanaannya, peran guru sangat sentral untuk menjaga nilai edukatif kegiatan. Sebelum berangkat, tim pengajar merancang lembar pengamatan dan tugas sederhana. Saat di lapangan, guru aktif memberikan pertanyaan pemicu guna mengasah daya kritis siswa. ​”Siswa tidak hanya melihat, tetapi juga berpikir dan menghubungkan apa yang mereka temukan dengan materi di kelas. Setelah kegiatan, pengalaman tersebut direfleksikan kembali,” jelas Fira.

​Dampak positif dari pola belajar ini terlihat nyata pada perkembangan anak. Pemahaman terhadap konsep pelajaran menjadi lebih mendalam karena berangkat dari pengalaman konkret. Selain aspek akademik, keterampilan sosial anak berkembang pesat melalui proses komunikasi, kerja sama, pemecahan masalah, hingga adaptasi dengan lingkungan baru.

Meski demikian, menyelenggarakan pembelajaran di luar sekolah memiliki tantangan tersendiri. Pihak sekolah harus bekerja ekstra keras dalam menyiapkan detail perjalanan, mulai dari pemetaan lokasi, pengelolaan waktu, penyesuaian kebutuhan anak, hingga kepastian faktor keamanan.

“Banyak tantangan yang kami hadapi, mulai dari menentukan lokasi yang sesuai, mengelola waktu, memastikan keamanan, hingga koordinasi antarguru. Karena itu kegiatan ini butuh persiapan matang,” ungkap Fira.

Ke depan, SDIS 2 berkomitmen terus mengembangkan konsep Outing Class agar semakin inovatif melalui kegiatan berbasis proyek yang lebih interaktif. Siswa tidak hanya diajak datang dan melihat-lihat, tetapi juga diberi tantangan untuk mengamati, berdiskusi, serta mempresentasikan hasil temuan mereka.

Langkah ini diharapkan dapat menjadikan Outing Class bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan fondasi pembelajaran bermakna yang membentuk karakter dan kecerdasan siswa secara utuh. (hud/udi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *