Tangis Haru Iringi Wukuf, PPIH Larang Lempar Jumrah Saat Cuaca Terik

MALANG POSCO MEDIA, MAKKAH – Jutaan jemaah haji, termasuk ratusan ribu jemaah asal Indonesia, kini memasuki fase mabit di Mina dan lempar jumrah di Jamarat setelah menjalani wukuf di Arafah serta mabit di Muzdalifah pada Selasa (26/5) malam hingga Rabu (27/5) dini hari. Suasana haru menyelimuti rangkaian puncak ibadah haji tahun ini.
Tangis jemaah pecah saat lantunan talbiyah menggema di Padang Arafah. Banyak jemaah tak mampu membendung air mata ketika memanjatkan doa dan mengenang perjalanan hidup mereka di hadapan Allah SWT. Salah satunya dirasakan Muhammad Musawir Ginting, jemaah asal Banda Aceh. Ia mengaku terharu hingga menangis saat menjalani wukuf karena teringat dosa-dosa yang pernah dilakukan dan sosok ayahnya yang telah meninggal dunia.

“Alhamdulillah saya sempat nangis karena terharu. Teringat orang tua, ayah almarhum,” ujar Musawir kepada Media Center Haji (MCH) di Muzdalifah, Rabu (27/5/2026) dini hari.
Musawir mengungkapkan dirinya telah menunggu cukup lama untuk bisa menunaikan ibadah haji. Ia tercatat mendaftar haji reguler sejak 2011. Perasaan serupa dirasakan Yayang Nurwanda (29), jemaah asal Pandeglang yang berangkat bersama dua adiknya, Muhammad Nur Adiyanullah (19) dan Najwa Ahada (24). Ketiganya diketahui telah mendaftar haji sejak 2012. “Alhamdulillah pastinya bersyukur banget udah dapat kesempatan di usia kita yang muda ini,” katanya.
Ia mengaku memanfaatkan momentum wukuf untuk memanjatkan doa bagi kedua orang tuanya agar selalu diberi kesehatan dan kelancaran usaha. Sementara sang adik, Muhammad Nur Adiyanullah, mengaku tak mampu mengungkapkan rasa syukurnya selain ucapan hamdalah. “Tidak ada kata selain Alhamdulillah,” ucapnya singkat.
Wukuf sendiri merupakan inti pelaksanaan ibadah haji. Dalam syariat Islam, wukuf berarti berdiam diri di Arafah dalam keadaan ihram pada 9 Dzulhijjah. Ibadah ini menjadi pembeda utama antara haji dan umrah. Bahkan dalam hadis disebutkan bahwa “haji adalah Arafah.”
Usai menjalani wukuf dan mabit di Muzdalifah, jemaah kini fokus menjalani mabit di Mina dan melempar jumrah aqabah di Jamarat. Namun, cuaca ekstrem dan kepadatan jemaah membuat Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mengeluarkan larangan lempar jumrah pada pukul 10.00 hingga 14.00 Waktu Arab Saudi (WAS).
Ketua PPIH Arab Saudi yang juga Direktur Jenderal Pelayanan Haji Kementerian Agama, Ian Heryawan, meminta seluruh jemaah mematuhi aturan tersebut demi keselamatan bersama. “Seluruh jemaah haji agar mengikuti seluruh ketentuan yang ditetapkan bahwa pukul 10.00 pagi hingga pukul 14.00 untuk tidak bergerak keluar tenda,” ujarnya dalam keterangan video yang diterima Tim Media Center Haji.
Menurut Ian, instruksi tersebut berasal dari Kementerian Haji Arab Saudi sebagai upaya mengurangi risiko akibat cuaca panas ekstrem dan kepadatan di area Jamarat. “Kami memerintahkan kepada seluruh jajaran petugas yang ada di lapangan untuk melaksanakan instruksi ini dengan sebaik-baiknya,” tegasnya.
Pantauan di lapangan menunjukkan suhu di Mina dan jalur menuju Jamarat sangat terik. Arus jemaah dari berbagai negara juga terlihat sangat padat. Sejumlah jemaah tampak kelelahan di sepanjang perjalanan menuju lokasi lempar jumrah.
Jemaah Indonesia diimbau tidak memaksakan diri saat kondisi terlalu padat, terutama ketika area Jamarat didominasi jemaah dari negara lain dengan postur tubuh lebih besar. Selain itu, jemaah juga diminta tidak melawan arus demi menghindari risiko desak-desakan.
Pada 10 Dzulhijjah ini, jutaan jemaah haji dari seluruh dunia melaksanakan lempar jumrah aqabah. Sementara pada hari tasyrik, jemaah yang mengambil nafar awal akan kembali melempar jumrah ula, wustha, dan aqabah pada 11–12 Dzulhijjah. Adapun jemaah yang mengambil nafar tsani akan melanjutkan hingga 13 Dzulhijjah.(aim)


