Universitas Negeri Malang Gelar Seminar Navigasi Iman di Era Digital

BIJAK BER-AI: Prof. Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D saat memberikan paparan dalam seminar rohani bagi mahasiswa Katolik di Universitas Negeri Malang (UM), Jumat (08/05).

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Di tengah deru transformasi digital yang kian kencang, sebuah pertanyaan mendasar muncul: mampukah spiritualitas bertahan di balik algoritma Artificial Intelligence (AI)? Menjawab tantangan tersebut, Laboratorium Pendidikan Agama Universitas Negeri Malang (LPA UM) menggelar sebuah diskusi reflektif yang tidak biasa bagi para mahasiswa Katolik.

​Bertajuk “Scrolling, Coding, Praying: Hidup Mahasiswa Katolik di Era AI”, seminar tahunan ini memenuhi Aula Lantai 9 Gedung Pascasarjana A21 UM pada Jumat (08/05). Bukan sekadar seminar formal, acara ini menjadi ruang kontemplasi bagi generasi Z yang menghabiskan sebagian besar waktunya di depan layar.

​Wakil Rektor IV UM, Prof. Dr. Ahmad Munjin Nasih, S.Pd., M.Ag., membuka sesi dengan sebuah perbandingan yang menarik. Dia mengenang masa-masa ketika Kitab Suci fisik adalah benda wajib yang dibawa ke mana-mana. Kini, segalanya telah berpindah ke dalam genggaman ponsel pintar.

​“Teknologi memang mempermudah, tetapi feel-nya tentu berbeda,” ujar Prof. Munjin di hadapan para peserta. Dia menekankan bahwa meski mahasiswa harus adaptif terhadap AI, mereka tidak boleh kehilangan pegangan pada nilai-nilai religiusitas. “Kita harus seimbang. AI adalah alat untuk pengembangan diri, jangan sampai ia justru menjauhkan kita dari nilai kemanusiaan dan hubungan dengan Tuhan,” tuturnya.

​Senada dengan hal tersebut, Prof. Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D., menyoroti fenomena “kebisingan digital” yang kerap membuat mahasiswa kehilangan ruang untuk merenung. Di era di mana jawaban bisa didapatkan dalam hitungan detik lewat ChatGPT, refleksi batin justru sering kali terabaikan.

​“Seminar ini dirancang sebagai ruang jeda. Di tengah derasnya arus informasi, kami ingin mahasiswa kembali mengenali identitas spiritual mereka. Mereka perlu bijak menggunakan AI tanpa harus kehilangan jati diri sebagai insan yang beriman,” tutur Prof. Surjani.

​Diskusi berlangsung hangat saat para mahasiswa mulai mempertanyakan batas-batas etika penggunaan AI, baik dalam kehidupan akademik maupun pribadi. Seminar ini seolah menjadi pengingat bahwa di balik kode-kode pemrograman (coding) dan aktivitas media sosial (scrolling), ada ruang doa (praying) yang tidak boleh ditinggalkan.

​Langkah UM dalam menyelenggarakan kegiatan ini juga merupakan manifestasi dari dukungan terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-4 tentang pendidikan berkualitas dan poin ke-16 mengenai terciptanya masyarakat yang damai dan berkarakter. Melalui seminar ini, Universitas Negeri Malang menegaskan komitmennya untuk mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara digital, tetapi juga kokoh secara spiritual. (imm/udi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *