Grebeg Suro Tunggulwulung, Kirab Budaya hingga Sound Horeg

MPM-m FIRMAN SENYUM: Peserta kirab budaya di Grebeg Suro Tunggulwulung, tampil cantik dengan tema khusus yaitu kerajaan Singosari.

MALANG POSCO MEDIA – Kawasan Kelurahan Tunggulwulung dan sekitarnya, lebih ramai dibandingkan hari biasanya, Minggu (12/7). Hal ini disebabkan karena adanya kirab budaya bertajuk Grebeg Suro Tunggulwulung yang diawali titik start di Jalan Akordion dan titik finish di Jalan Arumba. Sejumlah ruas jalan dialihkan selama pelaksanaan Grebeg Suro tersebut.

Ketua Panitia Grebeg Suro Tunggulwulung 2026, Nikolas Sugeng Siswandi menyampaikan, acara rutin kali ini mengangkat tema ‘Berbudaya Menjadikan Suatu Kesadaran Menuju Kebangkitan’ yang digelar untuk mempererat kebersamaan sekaligus melestarikan tradisi lokal. Esensi dari acara yang diikuti oleh 6 RW ini ditegaskan Niko adalah menjaga nilai-nilai luhur dan kerukunan antar warga.

“Rata-rata setiap RW mengeluarkan 10 barisan atau sekitar 10 RT. Bahkan di RW 5, ada lima RT yang sengaja bergabung untuk menyajikan tema khusus, yaitu tema kerajaan,” terang Niko.

Ia menjelaskan, pemilihan tema kerajaan, khususnya Kerajaan Singosari, pada RW 5 bertujuan untuk mengedukasi generasi muda. Menurut Niko, belum banyak anak muda yang mengetahui bagaimana budaya dan gambaran kehidupan masyarakat di Kerajaan Singosari pada masa lalu.

“Kami ingin mengangkat sejarah Singosari agar generasi penerus tahu, bahkan hingga tentang silsilah dan sejarah kerajaan tersebut,” imbuhnya.

Selain kirab budaya, rangkaian acara juga dimeriahkan dengan kirab sound horeg dari masing-masing RW.

Sementara itu, Lurah Tunggulwulung, Imbar Hadi Wintjoko, S.Pt., M.M., menyambut positif antusiasme dan kekompakan warganya. Ia menyebut kirab budaya berskala besar seperti karnaval ini memang menjadi agenda rutin yang digelar setiap dua tahun sekali pada tahun genap. Sedangkan untuk tahun ganjil, kegiatan akan difokuskan pada kirab pusaka.

“Kultur masyarakat kami ini beraneka ragam, jadi ini wujud Bhineka Tunggal Ika. Ada pengajian, karnaval, dan seni lainnya. Semua RW 1 sampai 6, itu sangat mendukung dan mengeluarkan kesenian masing-masing,” sebut Imbar.

Selain kirab budaya, rangkaian Grebeg Suro kali ini juga dimeriahkan dengan kesenian wayangan hingga stan kuliner dan kerajinan bertema tempo dulu. Menurutnya, semangat gotong royong yang tinggi ini tidak lepas dari sejarah wilayah Tunggulwulung.

“Warga Tunggulwulung ini kan dulu dari kabupaten kemudian beralih ke kota. Jadi kultur masyarakat untuk kebersamaan, gotong royong, dan sebagainya itu masih terjalin sangat erat,” tutur Imbar.

Lebih jauh, Plt. Camat Lowokwaru Muhammad Baihaqie tidak menampik pada Grebeg Suro kali ini selain kirab budaya, juga terdapat sound horeg yang mewarnai acara rutin tersebut. Namun, ia telah meminta kepada masyarakat supaya tetap membatasi tingkat kebisingan sound horegnya agar tidak mengganggu masyarakat sekitar.

“Sesuai hasil koordinasi dengan jajaran samping, penekanan untuk sound horeg dikurangi untuk suaranya, supaya dibawah ambang batas,” tandasnya. (ian/bua)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *