KWT Mulyo 1 Ubah Lahan Perumahan Jadi Sentra Olahan Jahe Berkhasiat; Kampung Jahe Merah, Ketahanan Pangan di Sudut Kota Malang

MALANG POSCO MEDIA – Ada yang menarik di tengah padatnya kawasan permukiman Perum LPK 1 Kelurahan Mulyorejo Kecamatan Sukun Kota Malang. Di kawasan yang ramai penduduk itu, hadir sebuah kampung yang harum semerbak rempah. Itu bukan karena pabrik jamu, melainkan karena kerja tangan ibu-ibu tangguh yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Mulyo 1.
Lewat semangat urban farming, mereka mengubah halaman rumah menjadi kebun produktif jahe merah. Kini, warga sekitar mengenalnya sebagai Kampung Jahe Merah, yang menjadi ikon baru ketahanan pangan berbasis komunitas di Kota Malang.
Ketua KWT Mulyo 1 Hernanik Sulistyowati menceritakan awal mula perjalanan kampungnya sampai saat ini. Berawal dari Tahun 2019 lalu, Tim Penggerak PKK Kota Malang bersama Bank Indonesia menggulirkan program urban farming di sejumlah kampung. KWT Mulyo 1 termasuk di antaranya.
“Waktu itu kami diberi bibit sayuran dan ikut lomba antar-kampung. Setelah masuk 15 besar, ada perusahaan jamu yang tertarik, lalu memberi kami 2,5 kilogram bibit jahe merah,” ujar perempuan yang akrab disapa Nanik itu.
Tak disangka, jahe merah tumbuh subur di lahan 250 meter persegi milik kelompok. Panen pertamanya pun membawa keberuntungan. Para ibu-ibu itu berhasil menyabet Juara II Urban Farming se-Kota Malang dan Juara III tingkat Jawa Timur dalam kategori yang sama dalam lomba yang digagas perusahaan jamu tersebut.
Meski masa panen jahe merah mencapai 10 bulan, semangat ibu-ibu KWT tak pernah surut. Awalnya, mereka hanya menjual bibit muda usia 1–2 bulan seharga Rp 15 ribu per pot. Namun kini, inovasi mereka berkembang pesat dan sebagian hasil panen diolah menjadi produk bernilai jual tinggi.
“Kami memproduksi bubuk jahe instan dan manisan jahe bermerek Camilan Sehat (Cames). Dijual secara online dengan berbagai ukuran kemasan, dari seperempat kilo hingga satu kilogram,” jelas Nanik.
Harga kedua produk itu sama, Rp 100 ribu per kilogram. Dari sekian varian, bubuk jahe instan menjadi primadona.
“Paling banyak dicari karena praktis dan rasanya hangat,” ujarnya.
Jahe merah, kata Nanik, memiliki banyak keunggulan dibanding jahe biasa. Selain lebih pedas dan aromatik, juga berkhasiat meningkatkan daya tahan tubuh serta meredakan batuk.
“Waktu pandemi Covid-19, permintaan jahe merah melonjak luar biasa. Kami bahkan sempat memproduksi sampai 17,5 kilogram bubuk jahe instan dalam sehari,” kenangnya.
Panen terakhir dilakukan pada Mei lalu, menghasilkan sekitar 12,5 kilogram jahe merah segar. Kini, di lahan yang sama, tumbuh seratus tanaman baru yang menunggu masa panen berikutnya.
Nanik menuturkan, merawat jahe merah sebenarnya tak sulit, asalkan paham komposisi tanah dan pola penyiraman. “Media tanamnya campuran tanah katel, sekam, dan pupuk. Kalau ada gulma langsung dicabut, dan siramnya jangan tiap hari, cukup dua sampai tiga hari sekali,” terangnya.
Kini, Kampung Jahe Merah tak hanya harum rempahnya, tapi juga harum namanya di tingkat kota dan provinsi. Sebuah bukti bahwa inovasi tak harus dimulai dari pabrik besar cukup dari halaman rumah, dengan tangan-tangan kecil yang penuh semangat.
“Sekarang, bagi kami warga Mulyorejo, jahe merah bukan sekadar tanaman, melainkan wujud ketahanan pangan dan kebersamaan. Lewat urban farming, kami ibu-ibu KWT berhasil menciptakan lingkungan hijau, produktif, dan bernilai ekonomi,” pungkasnya. (rex/van)




