Langkah Awal Smart Green Campus, FTP UB Siap Jadi Role Model Kampus Berkelanjutan

MALANG POSCO MEDIA – Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (FTP UB) mulai menegaskan langkah konkretnya menuju konsep smart green campus (SGC). Komitmen ini ditandai dengan rapat koordinasi perdana yang digelar pada Senin (20/4/2026), sebagai titik awal gerakan sistematis menuju kampus berkelanjutan.

Rapat tersebut bukan sekadar forum formalitas. Lebih dari itu, menjadi penanda keseriusan FTP UB dalam menjawab tantangan global, khususnya agenda Sustainable Development Goals (SDGs).
Dekan FTP UB, Prof. Yusuf Hendrawan, STP., M.App.Life.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa perubahan besar harus dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten oleh seluruh sivitas akademika.
“Komitmen terhadap smart green campus ini harus dimulai dari diri sendiri. Hal paling sederhana adalah memilah sampah. Dulu kita hanya membuang sampah pada tempatnya, sekarang kita tingkatkan dengan memilah, mana organik, non-organik, kertas, plastik, hingga residu,” tegasnya.
Menurutnya, kebiasaan sederhana tersebut akan memberikan dampak signifikan terhadap sistem pengelolaan limbah di lingkungan kampus. Jika dilakukan secara kolektif, perubahan perilaku ini bisa menjadi fondasi kuat menuju kampus yang lebih ramah lingkungan.
Lebih lanjut, Yusuf menjelaskan bahwa konsep SGC sejatinya mencakup lima komponen utama, yakni pengelolaan limbah (waste), air (water), energi dan perubahan iklim (energy & climate change), tata ruang dan infrastruktur (setting & infrastructure), serta transportasi. Namun, FTP UB memilih fokus pada tiga sektor prioritas yang dinilai paling strategis dan berdampak langsung.

“Kita akan fokus pada tiga komponen utama, yaitu waste, water, serta energy & climate. Selain itu, setiap program harus memiliki parameter yang jelas, cepat terlihat hasilnya, mudah diukur, dan bisa dibuktikan,” jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa komitmen ini tidak boleh dibebankan hanya kepada petugas kebersihan. Peran aktif seluruh elemen kampus, terutama mahasiswa, menjadi kunci keberhasilan implementasi SGC.
“Ini bukan hanya tugas OB (Office Boy). Seluruh sivitas akademika harus terlibat, terutama mahasiswa. Mereka harus menjadi motor penggerak perubahan,” tambahnya.
Sebagai langkah awal, FTP UB telah menyiapkan sejumlah program konkret. Di antaranya adalah sosialisasi dan pelatihan terkait pengelolaan lingkungan, penambahan lubang biopori untuk meningkatkan resapan air, hingga pengembangan sistem rainwater harvesting yang akan dimanfaatkan untuk penyiraman tanaman.
Tak hanya itu, upaya efisiensi juga dilakukan melalui pemasangan keran hemat air dan penerapan smart lighting untuk mengurangi konsumsi energi. Menariknya, FTP UB juga telah memiliki vertical garden, yang hingga kini masih tergolong langka di lingkungan Universitas Brawijaya.

FTP UB telah meresmikan vertical garden dalam rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-28, akhir Januari 2026 lalu. Dekan FTP UB menyampaikan bahwa pembangunan vertical garden merupakan bentuk komitmen FTP UB dalam mendukung program Smart Green Campus dari Universitas Brawijaya.
“Vertical garden ini menjadi upaya peningkatan kualitas ruang hijau kampus sekaligus media edukasi lingkungan. Di atasnya juga terpasang solar panel sebagai bentuk integrasi pemanfaatan energi terbarukan dan dukungan terhadap transisi energi bersih serta pengurangan jejak karbon,” yakin Prof. Yusuf.
Dengan berbagai langkah tersebut, FTP UB tidak hanya ingin berbenah secara internal, tetapi juga menargetkan diri sebagai percontohan kampus hijau di tingkat universitas, bahkan nasional.
Jika komitmen ini dijalankan secara konsisten, bukan tidak mungkin FTP UB akan menjadi wajah baru kampus masa depan—yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan. (adv/bua)


