MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Di tengah gempuran modernisasi, Padepokan Seni Mangun Dharma, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang tetap konsisten menjaga marwah budaya Jawa. Pada Jumat (1/5), padepokan tersebut menyelenggarakan upacara tradisi Tedhak Siten untuk anak bernama Raya Kinayun Thalasa.
Pemilik Padepokan Seni Mangun Dharma, Ki Soleh Adi Pramono menjelaskan bahwa Tedhak Siten merupakan tradisi turun tanah saat anak menginjak usia tujuh bulan. Secara etimologi, nama tersebut berasal dari kata Tedhak yang berarti turun dan Siten atau berarti bumi.
“Bumi dianggap sebagai sumber berkah yang suci dan menghidupi manusia,” ujar Ki Soleh, yang sebagai Pemandu Upacara Tedhak Siten.
Dalam upacara ini, Raya Kinayun Thalasa harus melewati serangkaian prosesi adat yang penuh filosofi, yakni Jadah Tujuh Warna yaitu anak menapaki ketan berwarna-warni yang melambangkan tahapan pendidikan serta perkembangan jiwa anak menuju kedewasaan.
Kemudian menaiki Tebu Arjuno didampingi kedua orang tuanya. Tebu Arjuno ini simbol dari ‘anteping kalbu’ atau kemantapan hati dalam menjalani fase kehidupan.
“Selanjutnya, masuk ke kurungan (sengkeran). Di dalam kurungan, anak diminta memilih benda seperti uang atau alat musik. Pilihan anak dipercaya menjadi gambaran minat atau profesinya di masa depan,” Ki Soleh, menjelaskan.

Setelah itu prosesi Udhek-Udhek yaitu tradisi menyebar beras kuning dan uang sebagai simbol berbagi rezeki dan pengenalan terhadap lingkungan sosial.
“Diharapkan anak-anak yang telah melalui semua ini bisa memiliki kemantapan lahir dan batin dalam setiap tingkatan hidupnya,” pungkas Ki Soleh.
Tradisi tersebut diikuti oleh Febri dan Nuzulla yang merupakan orang tua Raya Kinayun Thalasa yang menjalani prosesi Tedhak Siten beserta keluarga masing-masing pasangan tersebut. (den/jon)





