Program Seragam Gratis Tak Merata

MPM-DOK/Ilustrasi SERAGAM: Wali Kota Malang Wahyu Hidayat saat memberikan bantuan seragam gratis kepada pelajar pada tahun lalu.

Dampak Efisiensi Anggaran

MALANG POSCO MEDIA, MALANG-  Program seragam gratis dari Pemkot Malang tahun ini dipastikan tak bisa merata lagi seperti tahun lalu. Program yang merupakan salah satu janji politik Wali Kota Malang Wahyu Hidayat itu pada tahun ini hanya diprioritaskan kepada siswa yang masuk kategori prasejahtera atau kurang mampu.

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengungkapkan, langkah ini diambil sebagai respon adanya efisiensi anggaran. Fokus bantuan seragam gratis ini dialihkan untuk memastikan mereka yang benar-benar membutuhkan, tetap mendapatkan haknya meski di tengah keterbatasan anggaran.

“Iya, ada pengaruh dari efisiensi anggaran. Kami fokuskan kepada mereka yang tidak mampu. Jika tahun ajaran sebelumnya menyasar semua siswa baru kelas 1 SD dan 7 SMP, tahun ini hanya yang prasejahtera dulu,” terang Wali Kota Wahyu, Rabu (29/4) kemarin.

Mengenai teknis pemberian, Wali Kota Wahyu menegaskan bantuan itu tetap akan diberikan dalam bentuk kain, bukan seragam jadi. Hal ini dilakukan untuk menghindari risiko ukuran pakaian yang tidak sesuai dengan postur tubuh siswa. “Karena kalau seragam jadi, banyak yang tidak sesuai dan akhirnya tidak bisa digunakan langsung,” tambahnya.

Sementara itu  Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang Suwarjana menambahkan, penurunan alokasi anggaran program ini diakui cukup signifikan. Yakni alokasi anggarannya ini hanya tersedia Rp 2 miliar.

“Jadi anggaran kami itu di tahun ini baru tersedia untuk anak prasejahtera. Perbandingannya cukup jauh, dulu sekitar Rp 8 miliar, sekarang hanya Rp 2  miliar. Ini memang murni karena efisiensi,” jelas Suwarjana.

Dengan adanya penyesuaian itu, ia pun menegaskan, pihak sekolah akan memegang peranan kunci dalam menentukan siapa saja siswa yang berhak menerima bantuan tersebut.

Sekolah dianggap paling mengetahui kondisi ekonomi orang tua siswa di lapangan. Sekolah dinilai lebih tahu mana yang prasejahtera atau tidak. Meski anggaran terpangkas, Suwarjana mengupayakan agar bantuan yang diberikan tetap lengkap, mencakup seragam utama (merah-putih untuk SD dan biru-putih untuk SMP) serta seragam Pramuka, lengkap dengan atribut seperti dasi. Namun, ia memberikan catatan mengenai detail atribut tersebut. “Kami usahakan tetap lengkap dengan atribut. Cuma karena anggarannya terbatas, atributnya mungkin tidak bisa spesifik per nama sekolah seperti tahun lalu. Jadi lebih bersifat umum,” pungkas Suwarjana. (ian/van)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *