Simulasi Gempa Bumi, Siswa Berkebutuhan Khusus Diajari Evakuasi Mandiri

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Peristiwa bencana bisa menimpa siapa pun. Tidak terkecuali anak anak berkebutuhan khusus. Oleh karenanya, edukasi dan pemahaman terkait tanggap bencana, juga penting bagi anak-anak istimewa tersebut.
Hal inilah yang melatarbelakangi diadakannya simulasi bencana gempa bumi yang diadakan di SLB C Autis Negeri, Kedungkandang, Kota Malang, Rabu (15/7) kemarin. Puluhan anak berkebutuhan khusus diajari cara evakuasi mandiri seperti mencari perlindungan dan menyelamatkan diri, dengan dipandu oleh SAR Trenggana.
Perwakilan SAR Trenggana, Yusfan, menuturkan, edukasi kepada siswa berkebutuhan khusus ini dimulai dari pengenalan dasar mengenai bahaya gempa bumi.
“Mereka diberikan edukasi yang paling dasar, sehingga tanpa instruksi mereka bisa mandiri apa yang harus dilakukan jika terjadi bencana,” terang Yusfan kepada Malang Posco Media, usai simulasi.
Yusfan menuturkan, perbedaan utama pelatihan bagi siswa berkebutuhan khusus terletak pada pengulangan materi tanpa perlu penjelasan analitis. Sehingga anak-anak hanya perlu mengenal sebuah gambar, lalu melakukan langkah apa saja sesuai yang diarahkan. Dengan begitu, setidaknya anak- anak bisa terbiasa dan kemudian ketika terjadi bencana, risiko bahayanya bisa diminimalisir.
Ia menyebut, edukasi kebencanaan bagi siswa istimewa ini pun tidak akan berhenti pada simulasi tersebut, melainkan akan terus dilakukan secara rutin di waktu luang.
“Ada rutinitas di waktu luang yang akan dilakukan terus menerus sehingga tanpa mereka bisa menghafal, di bawah sadar mereka sendiri, ketika kejadian yang luar biasa dan tidak diharapkan, adik-adik dengan otomatis bisa melakukan tindakan evakuasi mandiri,” tambahnya.
Menurut Yusfan, edukasi keselamatan bencana penting diberikan kepada seluruh kalangan tanpa terkecuali, mulai dari usia dini hingga masyarakat pekerja. Apalagi untuk siswa berkebutuhan khusus. Meski kebanyakan mereka mendapatkan pendampingan, namun tentunya tidak dapat dilakukan secara penuh sepanjang waktu.
“Pendampingan itu kan juga tidak bisa 100 persen atau 24 jam. Dengan edukasi ini, adik-adik bisa mempelajari setidaknya langkah awal apa yang mereka lakukan saat terjadinya bencana,” jelas dia.
Sementara itu, Kepala SLB C Autis Negeri Kedungkandang Kota Malang Ade Dian Firdiana menyampaikan, simulasi bencana ini merupakan bagian dari program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang rutin dilaksanakan sekolah untuk mengenalkan langkah-langkah keselamatan kepada peserta didik. Simulasi bencana gempa bumi dipilih sebagai tema kali ini, sesuai dengan potensi bencana alam yang ada di Kota Malang.
Ia mengamini, simulasi kebencanaan tersebut memang sangat penting untuk dilakukan terus secara berulang agar anak-anak memiliki gambaran nyata mengenai apa yang harus dilakukan saat bencana terjadi.
“Ini kami lakukan karena anak-anak perlu contoh. Kalau misalnya mereka tidak diberi contoh dan itu tidak ada pengulangan, kemungkinan mereka tidak akan tahu yang mereka harus lakukan ketika bencana terjadi,” tegas Dian.
Disampaikannya, simulasi kali ini diikuti sekitar 30 siswa baru dari total 150 siswa yang ada di sekolah tersebut, sebagai bagian juga dari kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Menurut Ade, pendekatan yang diterapkan berbeda dengan simulasi pada sekolah umumnya. Sebab, hal ini untuk menyesuaikan karakteristik siswa yang memiliki hambatan intelektual dan autisme tersebut.
“Tentunya dalam simulasi pun harus berulang-ulang, kemudian juga ada dimodifikasi supaya anak paham dengan cara bantuan visual dengan gambar. Supaya mereka itu bisa memahami bagaimana yang dilakukan ketika gempa bumi terjadi,” pungkasnya. (ian/van)




