Syiar Agama, Bisa Jadi Destinasi Wisata Baru, Meriahnya Tradisi Arak-Arakan Hewan Kurban di Kota Malang

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Sejumlah ruas jalan di Kota Malang kembali dipenuhi dengan ribuan orang, bertepatan Hari Raya Iduladha 1447 H, Rabu (27/5). Hal itu dikarenakan adanya tradisi unik tiap kali datangnya hari raya kurban di Kota Malang. Hewan kurban diarak keliling ke jalanan sebelum disembelih.
Sejumlah wilayah yang mengarak kurban, di antaranya seperti di wilayah Temenggungan atau Jalan Gatot Subroto, Jalan Kyai Tamin, Jalan Juanda Jodipan, Jalan Mergosono, Kidul Pasar dan sejumlah wilayah lain. Di Kidul Pasar, bahkan dibentangkan spanduk raksasa yang menambah kemeriahan tradisi tersebut. Alhasil kirab hewan kurban itu menarik perhatian masyarakat luas.
“Tujuannya itu untuk syiar agama, bukan untuk menyombongkan diri dan sebagainya. Ini sudah tradisi mulai kami kecil dulu sampai hari ini. Jadi setiap tahun kami laksanakan seperti itu,” terang Aswin Muzaki Ketua Panitia ‘Black Embek’ Kidul Pasar.
Sederhananya, dengan diajak berkeliling, kirab hewan kurban ini memberi pesan ajakan untuk masyarakat luas supaya mau berkurban. Tradisi unik ini, sudah dilakukan setidaknya sejak periode 1980an lalu.
Selain sebagai syiar untuk kurban, juga ada tujuan atau manfaat lainnya. Yakni hewan kurban lebih mudah ketika akan dipotong. “Jadi di samping untuk kesehatan hewan, juga agar hewan yang yang akan disembelih itu capek, artinya disembelih dengan mudah, begitu. Enggak marah dan sebagainya seperti itu,” beber dia.
Tahun ini, warga Kidul Pasar yang berpusat di Masjid Noor, menyembelih sebanyak 87 ekor kambing dan 6 sapi. ‘Arak-arakan’ tahun ini lebih meriah karena sekaligus menandai 10 tahun berdirinya komunitas ‘Black Embek’ di Kidul Pasar yang nantinya akan melestarikan tradisi ini tiap tahunnya.
Aswin menyampaikan, untuk arak arakan hewan kurban ini tidak sampai menempuh jarak yang jauh. Cukup di sekitaran Kidul Pasar agar tidak terlalu mengganggu lalu lintas. “Dari Jalan Moh. Yamin gang 3 ini kami mulai start. Lalu ke Jalan Martadinata, terus balik lagi ke Jalan Moh. Yamin. Kira kira 1,5 kilometer lah,” rincinya.
Sementara itu, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat juga turut menyaksikan tradisi unik tersebut di Kidul Pasar. Ia menyebut, tradisi seperti ini menjadi sebuah kearifan lokal yang patut diapresiasi dan dipertahankan. Ia menilai, tradisi ternyata justru mampu menyatukan dan memperkuat hubungan antar masyarakat.
“Hewan kurban ini diarak dengan sukaria. Warganya pun selalu kompak dengan pakai seragam kaos yang sama, yang tiap tahun itu seragamnya selalu berbeda-beda kaosnya. Jadi ini adalah satu kearifan lokal,” tegas Wahyu.
Lebih jauh, Wahyu juga terkesan dengan tata cara pemotongan hewan kurban di Kidul Pasar yang dilakukan dengan SOP yang jelas. Semua warga terlibat dan telah dibagi secara jelas tugas masing masing. Peralatannya pun sangat lengkap dan memadai sehingga semua dilakukan dengan cepat.
“Pemotongan ini sangat baik dan digabungkan dengan tradisi, jadi menjadi satu rangkaian kegiatan dalam rangka Idul Kurban ini sangat baik sekali. Saya pun salut dengan kekompakan warga karena semua terlibat. Terutama pemuda-pemudanya, pemudi-pemudinya semua terlibat mulai dari persiapan, pemotongan, sampai dengan pembagian,” kesan Wahyu.
Ia pun yakin, tradisi seperti ini nantinya akan menjadi sebuah destinasi wisata baru di Kota Malang. Masyarakat bisa melihat uniknya sebuah tradisi yang sudah berjalan puluhan tahun dan bisa merasakan suasana berbeda yang mengesankan. “Orang-orang akan bisa melihat bahwa hari raya Iduladha di Kota Malang, penyembelihan hewan kurban ini ada yang berbeda dengan di daerah-daerah lain,” tutup dia.(ian/lim)


