UM Jadi Lokomotif Riset Global

SIMBOLIS: Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd membuka secara resmi kegiatan Afrasia Programme Validation and Shareholders Strategic Engagement Workshop

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Semangat Konferensi Asia-Afrika kembali bergelora di Bumi Arema. Universitas Negeri Malang (UM) resmi mengukuhkan posisinya sebagai katalisator intelektual bagi negara-negara berkembang dengan menjadi tuan rumah Afrasia Programme Validation and Shareholders Strategic Engagement Workshop pada Rabu (6/5). Forum ini bukan sekadar pertemuan akademik biasa, melainkan sebuah misi ambisius untuk merajut masa depan riset yang lebih inklusif dan berdampak nyata bagi kemanusiaan.

​Melalui inisiatif AFRASIA, UM bersama akademisi dari Malaysia, Tanzania, hingga Afrika Selatan berupaya memutus ketergantungan riset pada negara-negara Utara. Fokusnya tajam dan mendasar: kesehatan, air, dan energi. Tiga pilar yang dianggap sebagai urat nadi kehidupan di setiap jengkal tanah Global South.

Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., dalam sambutannya menekankan bahwa menara gading akademik tidak boleh lagi berjarak dengan realitas sosial. Menurutnya, ilmu pengetahuan harus menjadi alat pembebasan bagi masyarakat dari berbagai tantangan global.

​”Sebagai bangsa dan intelektual, kita memiliki tanggung jawab agar perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi benar-benar memberikan dampak langsung. Peran akademisi kini harus melampaui batas pengembangan teori semata,” tegas Prof. Hariyono dengan penuh semangat.

​Kehadiran Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang), Dr. Mohammad Fauzan Adziman, S.T., M.Eng., menambah bobot strategis acara ini. Ia menilai langkah UM adalah jawaban atas kebutuhan zaman. Di mata Dr. Fauzan, kerja sama antarnegara berkembang bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk mencapai kemandirian.

​“Kolaborasi Selatan-Selatan bukan lagi sekadar kemungkinan teknis, melainkan sebuah kebutuhan strategis dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks,” ujarnya di hadapan para delegasi.

​Program ini tidak berhenti pada seremoni di atas kertas. Wakil Rektor III UM, Prof. Dr. Markus Diantoro, M.Si., mengungkapkan bahwa inisiatif yang dirintis sejak tahun lalu ini kini tengah memasuki fase konkret. Malang hanyalah titik awal dari perjalanan panjang yang inspiratif ini.

​“Setelah workshop di Malang ini, akan dilakukan soft launching di Cape Town, Afrika Selatan. Indonesia akan hadir di sana untuk mengunci kerja sama dengan beberapa universitas dunia. Kami menargetkan implementasi penuh dan dampak nyatanya mulai terlihat pada tahun 2027 mendatang,” jelas Prof. Markus.

​Melalui AFRASIA, UM tidak hanya membawa nama baik Indonesia ke panggung internasional, tetapi juga membuktikan bahwa solusi untuk masalah dunia bisa lahir dari tangan-tangan kreatif di negara berkembang. Ini adalah pesan kuat bahwa kolaborasi, inovasi, dan keberanian untuk melampaui batas adalah kunci utama menuju kesejahteraan global yang lebih setara. (imm/udi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *