Wyona Anyaci Yefriadi Atlet Pelajar Masa Depan Sukseskan Regenerasi, Seimbang Antara Sekolah dan Prestasi di Muay Thai
MALANG POSCO MEDIA- Dibalik prestasi gemilang di berbagai kompetisi, Wyona Anyaci Yefriadi menyimpan perjuangan yang luar biasa. Sebagai atlet yang masih sangat muda, ia tak hanya sebagai atlet tetapi juga ikut mengajar ke generasi olahraga Muay Thai.
Anya sapaan akrab Wyona Anyaci Yefriadi menjadi atlet di usia sekolah. Siswi SMAK Kolese Santo Yusup (Kosayu) Malang ini harus berhadapan dengan jadwal akademis yang padat.
Sebagai pelajar bisa dilakukan beriringan, dan bukan sesuatu yang harus dipertentangkan.
Pendidikan tetap menjadi bagian utama dalam perjalanan hidupnya. Sedangkan Muay Thai menjadi ruang untuk menyalurkan hobi sekaligus menempa karakter.
“Awal suka dan akhirnya cinta dengan bela diri itu sebetulnya waktu berusia delapan tahun. Terus ketika kelas 5 SD mulai berolahraga untuk mengisi waktu,” jelasnya.
Sosok peraih Medali Perunggu Porprov IX Jatim 2025 lalu, serta Juara 1 Muay Thai Tingkat Nasional di Yon Bekang Divif 2 Kostrad ini memulai perjalanannya penuh lika-liku.
Aktivitas olahraga dan belajarnya, kini berpadu dan saling mengisi yang sama-sama ditekuni demi menyongsong masa depannya.
Aktivitas olahraga tersebut, memang perlahan berubah menjadi sesuatu yang ia sukai dan tekuni.
Dunia pertandingan pun mulai dikenalnya ketika masih duduk di kelas 6 SD. Saat itu, ia mengikuti ajang Fight For Glory pada kategori berat badan 48 kilogram.
Sejak saat itu, ring menjadi ruang belajar tersendiri bagi Anya. Setiap pertandingan menghadirkan pengalaman berbeda, termasuk ketika hasil yang diperoleh tidak sesuai harapan.
“Salah satu pengalaman berat yang saya rasakan, dalam ajang Porprov 2025. Ketika itu, saya masih berusia 14 tahun turun di kelas 52 kilogram. Dan ini membuat saya harus menghadapi lawan yang lebih senior, dan memiliki pengalaman dari sekolah khusus olahraga (KKO) tingkat nasional,” bebernya.
Anya harus puas dengan mendapatkan Medali Perunggu di ajang Porprov IX 2025, lalu. Kini, ia diproyeksikan akan kembali turun untuk Porprov 2027, mendatang. Di balik hasil itu, pertandingan tersebut juga meninggalkan cedera pada bagian pahanya hingga membuatnya sempat kesulitan berjalan.
Namun rasa sakit itu tidak membuatnya meninggalkan ring. Justru dari pengalaman tersebut, Anya belajar bahwa pertandingan bukan hanya soal kemenangan.
Bersama sang ibu, ia memandang kekalahan dan benturan selama pertandingan sebagai bagian dari proses pembentukan mental. Yang lebih penting adalah keberanian untuk memberikan kemampuan terbaik dan berjuang secara maksimal.
Prinsip tersebut menjadi bekal bagi Anya ketika kembali menjalani latihan dan pertandingan. Ia tidak ingin hanya mengejar hasil akhir, tetapi juga menghargai proses yang harus dilewati untuk sampai ke sana.
Kecintaan terhadap Muay Thai sendiri tidak lepas dari lingkungan keluarganya. Setelah sang ayah berpulang delapan tahun lalu, sang ibu menjadikan studio senam sebagai salah satu tumpuan profesi keluarga.
Sementara itu, pamannya, Rudi Kurniawan, mengelola Nakmuay Camp & Fitness di kawasan Sukun Kota Malang. Lingkungan tersebut turut memperkenalkan Anya lebih dekat dengan dunia bela diri.
Tantangan Anya kemudian bertambah ketika memasuki jenjang SMA. Ia harus berhadapan dengan jadwal akademis yang padat.
Hari-harinya tidak sekadar diisi sekolah dan latihan. Ia juga aktif terlibat dalam organisasi intra sekolah, serta mulai mempersiapkan diri menuju jenjang perguruan tinggi.
Buku pelajaran, tugas akademis, organisasi sekolah, hingga persiapan menuju perguruan tinggi menjadi bagian dari kesehariannya.
Rutinitas tersebut membuat Anya harus pandai mengatur waktu. Hari bisa dimulai sejak sebelum subuh, dilanjutkan perjalanan di tengah kemacetan, aktivitas akademis di sekolah, latihan fisik yang menguras tenaga, hingga kembali belajar sampai larut malam.
Di tengah kepadatan itu, Muay Thai justru menjadi ruang lain bagi Anya untuk berkembang. Olahraga tersebut tidak ia anggap sebagai penghambat pendidikan, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang berjalan berdampingan dengan cita-cita akademisnya.
Ada waktu yang harus dikorbankan, ada rasa lelah yang harus ditahan, dan ada rasa sakit yang harus dilewati. Namun, bagi Anya, semua itu menjadi bagian dari perjalanan untuk membuktikan bahwa kerja keras tidak sia-sia.
“Saya belajar menjadi petarung bukan hanya tentang bagaimana menjatuhkan lawan, tetapi juga tentang kemampuan untuk bangkit, kembali berlatih, dan berani menghadapi tantangan berikutnya,” tandasnya. (rex/van)





