Dari FTP UB, Innovation Gathering Dorong “Lab to Market” Lewat Kolaborasi Industri Minuman

MALANG POSCO MEDIA – Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya menjadi pusat pertemuan gagasan inovasi dan industri dalam gelaran Innovation Gathering yang diinisiasi Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains dan Teknologi (DIKST) UB, Senin (4/5/2026). Kegiatan ini menghadirkan CEO Tutu, Angela Susilo, sebagai mitra industri yang telah sukses mengembangkan produk sirup lokal hingga menembus pasar internasional.
Acara yang diikuti para inovator dari kalangan dosen dan mahasiswa ini menegaskan komitmen UB, khususnya FTP, dalam mendorong hilirisasi riset agar tidak berhenti di laboratorium, melainkan mampu menembus pasar dan memberikan dampak ekonomi nyata.
Wakil Rektor V Bidang Riset dan Inovasi UB, Prof. Dr. Unti Ludigdo, menekankan pentingnya kolaborasi strategis antara kampus dan industri. Menurutnya, selama ini banyak inovasi akademik yang masih berhenti pada publikasi dan belum sepenuhnya terserap pasar.
“Ke depan, kita ingin karya-karya akademik ini tidak hanya berhenti di riset, tetapi bisa ‘dijual’ dan dinikmati masyarakat. Ini bukan hanya soal reputasi, tetapi juga membuka peluang kesejahteraan bagi dosen dan institusi,” ujarnya.

Ia menambahkan, perguruan tinggi perlu jujur mengakui bahwa kekuatan utama ada di riset dan laboratorium, sementara aspek pemasaran menjadi ruang yang perlu dikuatkan melalui kemitraan industri.
Senada, Direktur DIKST UB, Mohammad Iqbal, menegaskan bahwa arah kebijakan inovasi UB saat ini fokus pada transformasi lab to market. DIKST berperan sebagai jembatan yang menghubungkan riset dasar dan terapan menuju produk bernilai komersial maupun sosial.

“Komersialisasi tidak selalu identik dengan keuntungan finansial semata, tetapi juga mencakup dampak sosial. FTP UB memiliki potensi besar dalam teknologi tepat guna yang produktif dan siap dihilirisasikan,” jelasnya.
Sementara itu, Dekan FTP UB, Prof. Yusuf Hendrawan, menyebut kehadiran industri seperti Tutu sangat relevan dengan karakter inovasi di FTP, khususnya di bidang minuman (beverage). Ia menilai, banyak riset berbasis bahan lokal seperti umbi dan rimpang yang berpotensi dikembangkan menjadi produk komersial.

“Kolaborasi ini penting, karena akademisi tidak bisa berjalan sendiri dalam aspek bisnis dan pemasaran. Di sinilah peran industri menjadi sangat strategis,” tegasnya.
Dalam sesi berbagi, Angela Susilo mengungkap perjalanan Tutu sebagai brand minuman lokal yang kini memiliki 52 varian rasa dan telah menembus pasar ekspor, termasuk Amerika dan Jerman. Ia menekankan pentingnya visi dalam membangun bisnis sejak dini.

Menurutnya, pelaku inovasi harus mampu melihat peluang pasar global, termasuk memahami negara dengan konsumsi minuman tertinggi di dunia.
“Kalau punya visi, kita bisa melihat arah ke depan. Industri minuman itu sangat besar, terutama di Amerika dengan konsumsi yang luar biasa tinggi. Dari situ kita belajar bagaimana membaca pasar,” ungkapnya.
Melalui Innovation Gathering di FTP UB ini, diharapkan terbangun sinergi kuat antara akademisi dan industri, sehingga inovasi kampus tidak hanya unggul secara ilmiah, tetapi juga mampu bersaing di pasar global dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (adv/bua)




