SMA Islam Sabilillah Malang, Boarding School Semakin Relevan di Era Digital

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Di tengah gempuran arus digital yang membuat batas antara dunia nyata dan maya semakin kabur, tantangan mendidik remaja usia SMA menjadi kian kompleks. Banyak orang tua khawatir anak-anak mereka kehilangan fokus akibat ketergantungan pada gawai. Namun, SMA Islam Sabilillah Malang Boarding School Sistem Pesantren (SMAIS) menawarkan antitesis yang menarik. Sistem boarding school bukan hanya soal asrama, melainkan laboratorium kemandirian dan benteng karakter bagi generasi Z.
Kepala SMAIS, Ani Rahmawati, S.Pd., M.Pd menegaskan bahwa masa SMA adalah momentum krusial bagi transisi menuju kedewasaan. Menurutnya, memilih sekolah berbasis ma’had di era sekarang adalah langkah strategis untuk menyiapkan mentalitas anak sebelum mereka terjun ke perguruan tinggi.
”Setelah lulus SMA, anak-anak akan berpisah dengan orang tua, baik kuliah di luar kota maupun luar negeri. Boarding school adalah waktu yang cukup untuk membekali mereka hidup mandiri, disiplin waktu, dan tetap konsisten menjaga ibadah tanpa pengawasan langsung orang tua,” ungkap Ani Rahmawati.

Ia juga menepis anggapan bahwa sekolah asrama tertinggal dalam hal teknologi. Sebaliknya, SMAIS menerapkan literasi digital yang terukur. Siswa tetap akrab dengan laptop untuk pembelajaran digital, namun penggunaan gawai dibatasi agar mereka memiliki kendali penuh atas waktu mereka sendiri.
Tak hanya berhenti pada aspek kognitif, sekolah ini mengedepankan sisi emosional dan spiritual. Saat UTBK berlangsung, para guru melakukan survei lokasi untuk memastikan kenyamanan siswa, serta mengadakan istighosah rutin. “Kami ingin memastikan anak tidak berjuang sendirian. Ada orang tua dan guru yang membersamai mereka dalam setiap doa dan sujud,” tambahnya.
Keunggulan karakter SMAIS bahkan menarik perhatian dunia internasional. Pada April 2026 lalu, sekolah ini menyambut kedatangan peserta student exchange dari sekolah Attarkiah Islamiah Institute, Thailand. Menariknya, para siswa mancanegara ini sangat terkesan bukan hanya pada fasilitas sekolah, melainkan pada ritme hidup di mahad.
”Mereka sangat excited dengan kedisiplinan anak-anak di Ma’had. Mulai dari salat malam, salat Subuh berjamaah, tadarus, hingga kebiasaan membersihkan kamar secara mandiri. Ini membuktikan bahwa nilai-nilai pesantren bersifat universal dan dikagumi,” jelas Rahma, sapaan akrabnya.
Menutup perbincangan, Ani menekankan bahwa pendidikan di SMAIS melalui sistem boarding bertujuan untuk mencetak manusia yang utuh. Maka pada momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun ini, Rahma menyampaikan pesan penting : bahwa perayaan Hardiknas bukan sekadar seremoni, melainkan momen refleksi untuk mengevaluasi apakah pendidikan telah berhasil membentuk akhlak siswa.\

Sesuai tema Hardiknas tahun ini : “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”.
Di bawah naungan Mahad Sabilillah, pendidikan bukan sekadar transfer logika, melainkan harmoni kehidupan yang terjaga dua puluh empat jam. Boarding school menjadi mikrokosmos dari tema Hardiknas: Menguatkan Partisipasi Semesta. Di sini, guru, pembina, dan lingkungan alam berkolaborasi sebagai semesta kecil yang menuntun santri menemukan jati diri.
Melalui disiplin yang berpijak pada kemandirian, pendidikan bermutu bukan lagi impian eksklusif, melainkan hak yang mewujud dalam karakter unggul. Inilah esensi gotong royong; di mana asrama menjadi kawah candradimuka bagi generasi inklusif.
”Pendidikan tidak hanya untuk mencetak anak pintar secara angka, tapi bagaimana membentuk anak yang berakhlak, berdaya saing, dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama,” tegas Rahma. Dengan visi ini, SMAIS membuktikan bahwa mahad adalah tempat di mana teknologi dan tradisi bisa berjalan beriringan untuk menciptakan pemimpin masa depan yang tangguh. (imm/adv/udi)




